Kredit Foto: BPMI
Presiden Prabowo Subianto optimistis Indonesia mampu mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga mencapai kapasitas 100 gigawatt. Menurutnya, target tersebut mungkin akan menuai keraguan dan kritik dari berbagai pihak, namun hal itu tidak boleh menyurutkan langkah pemerintah.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat memberikan sambutan pada peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7).
Prabowo mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah besar dalam pengembangan energi baru terbarukan. Ia mengatakan PT PLN akan mulai membangun pembangkit tenaga surya dengan kapasitas 17 gigawatt pada tahun ini sebagai bagian dari target pembangunan 100 gigawatt dalam dua tahun ke depan.
"Bagaimana nanti kalau kita juga sudah diketahui oleh tim dunia, kita diketahui kita akan bangun 100 gigawatt tenaga surya. Seratus gigawatt. Tahun ini PLN akan mulai dengan 17 gigawatt tahun ini. Seratus gigawatt dalam dua tahun."
Meski demikian, Prabowo mengakui target ambisius tersebut kemungkinan akan mengundang keraguan dari banyak kalangan.
"Dan kita akan, kita akan dikenyek. Saya kasih tahu siap-siap, kita akan dihujat. Pakar-pakar yang pinter-pinter itu akan bilang, 'Mana mungkin?' Ya kan? Mana mungkin?"
Karena itu, Kepala Negara mengajak seluruh jajaran pemerintah untuk tidak gentar menghadapi kritik maupun cibiran selama kebijakan yang dijalankan bertujuan untuk kepentingan rakyat. Prabowo kemudian mengutip sebuah ungkapan yang menurutnya menjadi pelajaran penting dalam kepemimpinan.
"Saya belajar sesuatu banyak, jadi kalau tidak berani dihina, diejek, difitnah, dikritik, ya ada tiga hal yang bisa kita berbuat. Do nothing, say nothing, be nothing. Enggak usah bicara apa saja, enggak usah berbuat apa saja, dan enggak usah jadi apa saja. Nah itu, you enggak akan diejek, you enggak akan dihina, you enggak akan difitnah."
Menurut Prabowo, kritik merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh setiap pemimpin yang ingin membawa perubahan.
"Jadi ini fenomena manusia. Semakin tinggi semakin dapat terpaan angin. Ya sudah, risiko."
Ia pun mengingatkan para kepala daerah dan menteri bahwa apa pun kebijakan yang diambil akan selalu mengundang pro dan kontra. Karena itu, fokus utama pemerintah harus tetap pada upaya memberikan solusi bagi masyarakat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah
Tag Terkait: