Kredit Foto: Kemenprin
Indonesia memanfaatkan ajang INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, untuk mempromosikan kawasan industri nasional kepada investor dari kawasan Eurasia. Sebagai Official Partner Country, Indonesia menghadirkan lima pengelola kawasan industri yang menawarkan lokasi investasi siap bangun dengan dukungan infrastruktur, insentif, dan konektivitas logistik yang terintegrasi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, partisipasi Indonesia dalam pameran industri terbesar di kawasan Eurasia tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah memperluas kerja sama industri sekaligus mendukung agenda Asta Cita melalui penguatan industrialisasi, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja.
"Kami ingin investor Eurasia melihat bahwa Indonesia bukan hanya pasar yang besar, tetapi juga mitra produksi yang siap tumbuh bersama. Kami menghadirkan lokasi investasi yang telah didukung infrastruktur, regulasi, dan layanan yang semakin kompetitif sehingga perusahaan dapat segera membangun basis produksinya di Indonesia," ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (9/7).
Menurut Agus, pengembangan kawasan industri menjadi salah satu strategi utama pemerintah untuk mempercepat pemerataan pembangunan industri sekaligus meningkatkan daya saing sektor manufaktur nasional. Kawasan industri dinilai tidak hanya berfungsi sebagai lokasi operasional perusahaan, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan pusat-pusat ekonomi baru, mendukung hilirisasi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan nilai tambah di daerah.
Kesiapan Indonesia dalam menyediakan kawasan industri yang kompetitif juga tercermin dari pertumbuhan sektor tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Hingga triwulan II 2026, Indonesia memiliki 180 kawasan industri yang dihuni hampir 12.000 tenant. Sepanjang 2025, kawasan-kawasan tersebut berhasil menarik investasi sebesar Rp6.744,58 triliun atau tumbuh 9,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menyerap sekitar 2,35 juta tenaga kerja.
Agus menilai, kawasan industri saat ini tidak lagi hanya menawarkan lahan bagi investor, tetapi juga menyediakan berbagai kemudahan untuk memulai usaha, mulai dari infrastruktur dasar, layanan terpadu, hingga proses perizinan yang semakin efisien. Karena itu, INNOPROM 2026 dimanfaatkan sebagai ajang mempertemukan calon investor dengan para pengelola kawasan industri secara langsung.
Baca Juga: Ekspor ke Armenia Melonjak 83 Persen, Indonesia Jajaki Kerja Sama Industri Baru di INNOPROM 2026
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Tri Supondy mengatakan, kehadiran lima pengelola kawasan industri di INNOPROM bertujuan mempercepat terjalinnya komunikasi bisnis dengan investor potensial dari kawasan Eurasia.
"Kami ingin mempermudah investor memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Di INNOPROM, mereka dapat berdiskusi langsung dengan pengelola kawasan industri, memahami fasilitas yang tersedia, mengenal berbagai skema insentif, hingga menjajaki peluang kerja sama sesuai kebutuhan usahanya. Harapannya, pertemuan di pameran ini dapat berlanjut menjadi investasi yang terealisasi di Indonesia," ujar Tri.
Lima pengelola kawasan industri yang menjadi co-exhibitor pada INNOPROM 2026 mewakili beragam keunggulan kawasan industri Indonesia. Mulai dari kawasan ekonomi khusus (KEK), kawasan yang terintegrasi dengan pelabuhan internasional, hingga kawasan yang telah menjadi basis investasi berbagai perusahaan manufaktur global.
Kelima co-exhibitor tersebut adalah KI Wiraraja Indonesia/PT Galang Bumi Industri, PT Kawasan Industri Terpadu Batang (Persero) sebagai pengelola KEK Industropolis Batang, Bintan Industrial Estate, Kendal Industrial Park, serta Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI).
Baca Juga: Industri Kimia Nasional Tancap Gas Bidik Pasar Eurasia
Executive Director PT Kawasan Industri Terpadu Batang (Persero), Juliani Sari Kusumaningrum, mengatakan investor saat ini semakin mempertimbangkan kesiapan ekosistem industri sebelum memutuskan berinvestasi.
"Di kawasan kami, investor tidak perlu memulai semuanya dari nol. Lahan siap bangun, jaringan utilitas, insentif fiskal melalui skema Kawasan Ekonomi Khusus, hingga akses logistik yang terhubung langsung dengan pelabuhan internasional telah tersedia. Dengan demikian, perusahaan dapat lebih fokus mempercepat operasional dan pengembangan bisnisnya," ujar Juliani.
Kementerian Perindustrian berharap partisipasi lima pengelola kawasan industri dalam INNOPROM 2026 mampu membuka lebih banyak peluang kerja sama dengan investor dari kawasan Eurasia. Langkah ini diharapkan dapat mendorong realisasi investasi baru, memperkuat daya saing industri nasional, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman