Kenang Gus Dur hingga Peringatan Soal Pemimpin Korup, Ada Pesan Tegas di Balik Napak Tilas Mahfud MD
Kredit Foto: Kominfo
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD membagikan cerita perjalanan selama dua hari menggunakan Kereta Api Taksaka di Cirebon dan Kuningan, Jawa Barat. Di balik perjalanan tersebut, ia menyampaikan refleksi mendalam tentang perjuangan para pendiri bangsa sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga Indonesia.
Mahfud menceritakan bahwa perjalanan itu diawali dengan momen yang tak terduga. Di dalam kereta, ia bertemu kembali dengan Eks Ajudan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Laksamana Muda TNI (Purn) Room Effendi.
Baca Juga: Mahfud MD: Tamparan Hotman Paris ke Prabowo Bukanlah Pelanggaran Hukum, Kecuali Presiden Merasa...
Pertemuan tersebut menjadi emosional karena keduanya telah sekitar 25 tahun tidak saling bertemu sejak sama-sama mendampingi sang mantan presiden menjalankan tugas kenegaraan, termasuk dalam berbagai kunjungan ke luar negeri.
"2 hari berkereta dengan kereta, menggali kenangan yang menyenangkan dan mengharukan. Di atas kereta bertemu dgn Laksda Purn. Room Effendi. Ia adalah eks ajudan Presiden Gus Dur. 25 tahun tak ketemu, kami jadi mengenang saat sama-sama bertugas mendampingi presiden sampai ke beberapa negara," ungkap Mahfud, dikutip Jumat (31/7/2026).
Setibanya di Cirebon, Mahfud menghadiri Halaqah Kebangsaan dengan Kiai Haji Faiz di Pondok Pesantren Buntet. Pesantren tersebut dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan islam yang memiliki jejak sejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Rangkaian kegiatannya berlanjut dengan menjadi pembicara dalam talk show dari Ikatan Alumni Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta di Cirebon. Mahfud dalam forum tersebut mengangkat tema "Problema Penegakan Hukum".
Adapun Mahfud melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Kuningan. Hal itu dilakukannya untuk mengunjungi Museum Linggarjati. Ia merupakan lokasi bersejarah tempat berlangsungnya Perundingan Linggarjati antara Indonesia dan Belanda. Momen tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjuangan diplomasi menuju pengakuan kedaulatan dari Indonesia.
"Mengharukan mengenang tokoh yang berjuang dengan ikhlas dan penuh kejujuran untuk memerdekakan dan membangun negara seperti yang diperlihatkan di Museum Linggarjati itu," tulisnya.
Mahfud kemudian menyampaikan pesan yang menjadi inti refleksinya. Menurutnya, perjuangan para pendiri bangsa harus terus dilanjutkan dengan menjaga cita-cita sebagai negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Ia juga menekankan bahwa cita-cita tersebut tidak boleh dirusak oleh praktik korupsi maupun kepemimpinan yang menyalahgunakan kekuasaan.
"Kita harus lanjutkan perjuangan para pemimpin itu yakni membangun Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur serta tidak dikotori oleh pemimpin-pemimpin korup," tegas Mahfud.
Setelah menyelesaikan seluruh agendanya, ia kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Hal itu juga turut dilakukan menggunakan KA Taksaka. I sempat membagikan kesan positif terhadap layanan kereta tersebut. Mahfud memuji ketepatan waktu, kebersihan hingga pelayanan makanan selama perjalanan.
Baca Juga: Strategi Dakwaan Baru Jokowi Sudah Dibongkar Tim Dokter Tifa: Nampaknya Ada Satu Skenario Mirip...
"Naik Kereta Taksaka dari Jakarta ke Cirebon. Sangat nyaman. Tepat waktu, bersih, konsumsi tinggal pilih sesuai selera. Saya suka makan Sei Sapi. Enak. Ponpes Buntet, I am coming," tuturnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: