Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ultimatum Amerika, Iran Tutup Lagi Selat Hormuz: Perjanjian Sepihak Telah Usai

        Ultimatum Amerika, Iran Tutup Lagi Selat Hormuz: Perjanjian Sepihak Telah Usai Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah adanya ultimatum keras menyusul gelombang serangan terbaru terhadap ratusan target di Iran. Hal ini berujung kepada ditutup kembalinya Selat Hormuz.

        Negosiator Senior Iran, Mohammad Baqer Qalibaf menyebut era perjanjian sepihak telah berakhir. Ia menegaskan kesepakatan yang sebelumnya menjadi dasar meredanya konflik kini tidak lagi berlaku.

        Baca Juga: Dua Menterinya Prabowo Sudah Tidak Mampu Tangani Kasus Korupsi Febrie Adriansyah, Kata Mahfud MD

        "Era perjanjian sepihak telah berakhir. Kami sudah memperingatkan kalian: tepati janji atau bayar harganya," kata Qalibaf, dikutip Senin (13/7).

        Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sendiri kembali mengancam lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. IRGC menyatakan serangan terhadap kapal-kapal di jalur strategis tersebut akan terus dilakukan hingga apa yang mereka sebut sebagai "berakhirnya campur tangan Amerika Serikat di Timur Tengah."

        Adapun Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan gelombang ketiga operasi militernya dengan menyerang sekitar 140 sasaran militer di Iran. Total target yang dihantam oleh mereka dalam tiga malam terakhir telah melampaui 300 lokasi.

        Menurut Amerika, operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan musuh dalam menyerang kapal dagang sipil dan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

        CENTCOM sendiri menyatakan kapal-kapal komersial masih dapat melintas di perairan tersebut, walaupun ancaman dari musuh terhadap kapal dagang maupun negara-negara sekutu masih terus berlangsung.

        Eskalasi terbaru dipicu setelah terjadi serangan terhadap sejumlah kapal dagang di dekat perairan dari Oman. Iran mengklaim telah menyerang satu kapal yang disebut melintasi jalur pelayaran tanpa izin, kemudian melumpuhkan kapal kedua dalam operasi berikutnya.

        Dampak insiden tersebut mulai dirasakan sejumlah negara. Pemerintah India melaporkan seorang warganya hilang menyusul diserangnya kapal dagang bernama GFS Galaxy. 10 awak kapal asal negara tersebut berhasil diselamatkan.

        Serangan Iran juga diklaim menyasar sejumlah fasilitas militer dan pendukung dari Amerika Serikat di Teluk. Hal ini telah menjadi cara pembalasan dari negara tersebut terhadap serangan dari Washington.

        Pemerintah Qatar melaporkan tiga orang, termasuk seorang anak-anak, mengalami luka akibat serpihan proyektil yang jatuh.

        Sementara itu, Yordania mengonfirmasi tiga rudal jatuh di wilayahnya dan menyebabkan kerusakan ringan tanpa korban jiwa.

        Di Oman, pemerintah menyebut sejumlah drone menyerang beberapa lokasi di wilayah Musandam yang berada di dekat Selat Hormuz.

        Rangkaian serangan dan saling balas tersebut memperlihatkan meningkatnya ancaman terhadap stabilitas jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Ia selama ini menjadi salah satu jalur distribusi minyak dan gas paling penting di dunia.

        Baca Juga: Diungkap Prabowo, Indonesia Pernah Ngutang Demi Jamu 'Perampok' Berkedok Tamu: Katanya Mau Dagang...

        Pernyataan Iran yang menyebut "perjanjian sepihak telah usai" juga memunculkan kekhawatiran bahwa upaya diplomasi kembali berada di ujung tanduk. Apalagi hal ini diperparah dengan ditutupnya Selat Hormuz.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: