Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Trump Blunder, Eks Diplomat Amerika Bilang Peta Timur Tengah Akan Berubah: Iran Jadi Lebih Berbahaya

        Trump Blunder, Eks Diplomat Amerika Bilang Peta Timur Tengah Akan Berubah: Iran Jadi Lebih Berbahaya Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Serangan Amerika Serikat ke Iran dinilai menjadi titik balik yang mengubah peta keamanan dari Timur Tengah. Alih-alih menciptakan stabilitas, langkah mereka disebut justru memicu kondisi baru yang membuat musuh berpotensi tampil lebih berbahaya, sementara keseimbangan kawasan diperkirakan tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.

        Eks Diplomat Senior Amerika Serikat dan Anggota Tim negosiasi Perjanjian Muklir Amerika-Iran 2015, Alan Eyre mengatakan bahwa perang yang terjadi pada tahun ini telah merusak tatanan strategis yang selama bertahun-tahun terbentuk di Teluk Persia.

        Baca Juga: Sudah Diprediksi Ahli, Ini Manuver Selanjutnya Febrie Adriansyah guna Melawan Polisi di Korupsi TPPU

        "Dengan perang pada bulan lalu, dan sampai batas tertentu juga tahun lalu, presiden (Donald Trump) telah mengambil sistem yang kompleks dan merusaknya," kata Eyre, dikutip Senin (13/7).

        Ia menjelaskan bahwa kawasan terkait selama ini memiliki keseimbangan strategis yang terbentuk melalui berbagai kepentingan politik, ekonomi dan keamanan. Namun, intervensi militer terbaru membuat keseimbangan tersebut runtuh sehingga kawasan harus membangun kembali tatanan baru yang belum tentu lebih aman.

        "Ini akan membutuhkan waktu bagi sistem yang kompleks di kawasan tersebut untuk menemukan keseimbangan baru. Saya tidak tahu berapa lama, saya tidak tahu akan seperti apa. Tetapi yang kita tahu, kondisinya tidak akan seperti sebelumnya," ujarnya.

        Menurut Eyre, kondisi tersebut justru menjadi kabar buruk bagi stabilitas regional. Menurutnya, Timur Tengah akan memasuki fase yang lebih tidak menentu dibandingkan sebelumnya.

        "Hal itu sangat disayangkan, karena kawasan baru ini akan jauh lebih tidak stabil. Iran di sisi lain juga akan menjadi jauh lebih berbahaya," katanya.

        Amerika Serikat menurutnya juga kemungkinan harus menerima pengaruh yang lebih besar dari Iran di Selat Hormuz. Hal itu kemungkinan akan menjadi kunci bagi mereka jika masih ingin membuka kembali ruang diplomasi terkait program nuklir dari Teheran.

        Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia. Ketidakstabilan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak global sekaligus meningkatkan risiko ekonomi internasional.

        Menurut Eyre, perubahan keseimbangan kekuatan yang dipicu operasi militer akan menciptakan tantangan baru yang jauh lebih rumit dibandingkan sebelum perang pecah. Iran yang semakin beringas dan agresif di kawasan akan membuat berbagai upaya diplomasi maupun pengamanan jalur perdagangan diperkirakan akan menghadapi hambatan yang lebih besar.

        Baca Juga: Kasus Febrie Adriansyah Bikin Ucapan 'Baju Hijau dan Coklat Suka Bekingi Mafia' Prabowo Viral Lagi

        Situasi tersebut memperlihatkan bahwa dampak konflik tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi membentuk wajah baru yang lebih sulit diprediksi dan lebih rentan terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: