Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Penguatan Tata Kelola Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi Nasional

        Penguatan Tata Kelola Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi Nasional Kredit Foto: (Azka Elfriza)
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Era ketidakpastian global ini dinilai tidak lagi bersifat sementara melainkan sudah berubah ke arah new normal. Pada masa ini, pemerintah menekan pentingnya penguatan manajemen risiko dan tata kelola sebagai fondasi menjaga ketahanan ekonomi nasional dan keberlangsungan dunia usaha di tengah meningkatnya tekanan global.

        Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, mengatakan ketegangan geopolitik, volatilitas pasar keuangan, dan gangguan rantai pasok (supply chain) global telah membentuk lanskap risiko yang semakin kompleks dan saling berkaitan.

        Ia menilai, situasi global semakin berat setelah konflik di timur tengah kembali meingkat meski sebelumnya sempat muncul kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat.

        "Tentu kemudian menimbulkan beberapa gejolak, mulai dari harga komoditas yang naik kembali. Hal tersebut menyebabkan ekspektasi suku bunga yang sebelumnya diperkirakan turun sekarang malah akan naik. Ini kemudian yang tentu punya dampak ke Indonesia," ujar Ferry dalam Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

        Untuk menghadapi kondisi tersebut, Ferry menegaskan bahwa pemerintah dan pelaku usaha perlu memperkuat penerapan manajemen risiko yang efektif dan tata kelola yang baik agar mampu merespons perubahan yang berlangsung cepat.

        Meski dihadapi berbagai tekanan eksternal, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat yang tercermin dari proyeksi sejumlah lembaga internasional yang tetap mempertahankan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.

        Tercatat, data International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook edisi Juli 2026 masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% pada 2026. Sementara, pada data Asian Development Bank (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan sebesar 5,2%, ketika proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Tenggara justru direvisi turun dari 4,7% menjadi 4,6%.

        "Kita harus menganggap sebagai satu sinyal positif bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap punya ketahanan yang tinggi dengan lingkungan yang memang sangat dinamis," kata Ferry.

        Terlebih, pasar keuangan kini sudah menunjukkan pemulihan usai sempat mengalami volatilitas tinggi.

        "Resilien juga bisa kita lihat dari pasar keuangan kita setelah sempat bergerak sangat dinamis. Kalau kita lihat IHSG sudah kembali ke 6.000-an, kemarin sore," ucapnya.

        Baca Juga: Pasar Modal Indonesia Tetap Menarik di Tengah Ketidakpastian Global, Ini Buktinya!

        Baca Juga: Kinerja MARK Tumbuh Dua Digit, Optimistis Tangkap Momentum Pemulihan Industri Sarung Tangan Global

        Selain itu, pemerintah juga menyambut positif keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan sovereign rating Indonesia di level BBB- dengan prospek stabil, sejalan dengan keputusan Moody's dan Fitch Ratings yang tetap menempatkan Indonesia pada kategori layak investasi.

        Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa berbagai lembaga internasional juga mengakui kemajuan Indonesia dalam memperkuat efektivitas kelembagaan, transparansi, aksestabilitas pasar, dan infrastruktur pasar keuangan. Capaian tersebut menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan investor.

        “Itu kita harapkan jadi fondasi utama untuk menjaga kepercayaan investor dan pertumbuhan jangka panjang,” kata Ferry.  

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: