Netanyahu Klaim Ada Negara Diam-Diam Ingin Jadi Mitra Israel: Normalisasi Hubungan di Depan Mata
Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim semakin banyak negara yang diam-diam berupaya memperluas hubungan dengan negaranya. Menurutnya, kerja sama tersebut memang belum dilakukan secara terbuka, namun telah membuka peluang baru menuju normalisasi hubungan diplomatik.
Netanyahu mengatakan posisi negaranya dalam kawasan semakin kuat sehingga menarik minat sejumlah negara untuk menjalin kemitraan lebih erat.
Baca Juga: Don Ritto Ungkap Sosok Utama di Balik Kasus Febrie Adriansyah: Dia Tukang Catut Nama-nama Petinggi
"Berkat pembangunan kekuatan kami yang konsisten, banyak negara mencari kemitraan dengan kami," ujar Netanyahu, dikutip Rabu (15/7).
Ia menegaskan kerja sama tersebut terus berkembang meski tidak menjadi sorotan publik. Bahkan menurutnya, hal tersebut berpotensi menjadi awal normalisasi hubungan antara negara tersebut dengan Israel.
"Kerja sama ini terus berkembang, bukan di bawah sorotan publik, tetapi benar-benar terjadi. Bukan hanya dengan satu negara, tetapi lebih dari satu atau dua negara. Ini juga membuka peluang di masa depan untuk normalisasi hubungan dan perdamaian," katanya.
Meski tidak menyebut negara mana yang dimaksud, pernyataan politikus mengindikasikan bahwa negara tersebut sedang membangun komunikasi dengan sejumlah negara yang selama ini belum memiliki hubungan diplomatik resmi.
Adapun Netanyahu juga menekankan pentingnya kemandirian industri pertahanan dari Israel. Ia menyampaikan apresiasi kepada sekutunya atas dukungan yang selama ini diberikan kepada Israel. Namun ia menegaskan negaranya tidak boleh bergantung sepenuhnya pada bantuan dari pihak lain.
"Kami harus memiliki kemampuan memproduksi persenjataan sendiri secara mandiri," tegas Netanyahu.
Netanyahu juga menilai keberadaan pasukan militer negaranya di wilayah yang sebelumnya dikuasai musuh menjadi salah satu pencapaian terbesar sejak perang yang pecah setelah serangan 7 Oktober.
Menurutnya, strategi pertahanan negaranya kini telah berubah dari sekadar merespons ancaman menjadi menciptakan zona penyangga langsung di wilayah lawan.
"Tidak ada lagi pembiaran terhadap ancaman. Tidak ada lagi pasukan teror di perbatasan kami. Zona penyangga Gaza kini berada di dalam Gaza. Zona penyangga Lebanon berada di dalam Lebanon. Zona penyangga Golan berada di dalam Suriah," kata Netanyahu.
Baca Juga: Iran 'Satu Pendapat' dengan Amerika Soal Kepengurusan Selat Hormuz: Presiden Trump Benar Sekali
Pernyataan tersebut kembali menunjukkan sikap pemerintah terkait yang menilai strategi keamanan proaktif menjadi bagian penting dari kebijakan pertahanannya, sekaligus mengklaim bahwa posisi negaranya kini semakin diperhitungkan oleh negara-negara lain yang disebut mulai membuka peluang normalisasi hubungan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: