Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bauksit Naik Daun, DPR Ingatkan Jangan Lupakan Daerah Penghasil

        Bauksit Naik Daun, DPR Ingatkan Jangan Lupakan Daerah Penghasil Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Lonjakan investasi hilirisasi bauksit menjadi momentum penting bagi penguatan industri mineral nasional. Namun, di tengah meningkatnya investasi pengolahan dan pemurnian, pemerintah diminta memastikan daerah penghasil sumber daya tetap memperoleh manfaat ekonomi dari perkembangan tersebut.

        Anggota Komisi XII DPR RI, Syarif Fasha, menilai peningkatan investasi hilirisasi bauksit merupakan capaian yang perlu diapresiasi. Meski demikian, ia mengingatkan agar pertumbuhan investasi tidak hanya berorientasi pada masuknya modal dan pembangunan fasilitas industri.

        “Yang perlu diperhatikan pemerintah adalah kita perlu menjaga dengan baik daerah penghasil sumber daya dan para pengelolanya. Misalnya, dana bagi hasil (DBH) untuk daerah jangan dipotong atau dihitung terus serta berikan hak daerah sesuai undang-undang yang berlaku,” tegas Syarif.

        “Terkait capaian ini perlu diapresiasi. Meski begitu tren ini jangan hanya bersifat sementara tapi harus konsisten dan bila perlu bisa ditingkatkan,” kata Syarif saat dihubungi, Senin (20/7/2026).

        Investasi hilirisasi bauksit pada triwulan II 2026 tercatat mencapai Rp40,1 triliun atau melonjak 193 persen dibandingkan triwulan I 2026 yang sebesar Rp13,7 triliun.

        Peningkatan tersebut membuat bauksit untuk pertama kalinya menempati posisi teratas realisasi investasi hilirisasi nasional. Kenaikan ini didorong oleh pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit di dalam negeri oleh investor domestik maupun asing.

        Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan perubahan posisi investasi tersebut terjadi karena meningkatnya pembangunan fasilitas pengolahan bauksit.

        “Nah ini kalau kita lihat, biasanya itu nikel, selalu di nomor 1, nah ini ada shifting nih, Bauksit. Bauksit ini nomor 1, biasanya kita tahu selalu nikel, nah ini ada shifting bauksit, karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit ini untuk pertama kali juga mengambil tempat nomor 1 sesudah nikel,” ungkapnya di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (16/7/2026).

        Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada triwulan II 2026 mencapai Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7 persen secara tahunan. Nilai tersebut menyumbang 29,8 persen dari total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp511,8 triliun.

        Berdasarkan komoditas, investasi hilirisasi bauksit menjadi yang terbesar dengan nilai Rp40,1 triliun, diikuti nikel sebesar Rp29,4 triliun, tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya sebesar Rp4,7 triliun.

        Baca Juga: Investasi Bauksit Meroket 193% di Triwulan II 2026, Nikel Tergeser dari Puncak

        Baca Juga: Hilirisasi Triwulan II 2026 Capai Rp152,7 Triliun, Bauksit Jadi Kontributor Utama

        Selain menciptakan nilai tambah industri, peningkatan investasi juga berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Realisasi investasi Januari–Juni 2026 menyerap 1.448.862 tenaga kerja atau meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

        “Dan ini kalau di triwulan ke-2 saja, ini adalah penyerapan tenaga kerjanya 742.263 orang atau peningkatan 5,1%,” tutupnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: