Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Naik 0,91% ke Level 6.231,78, Ini Saham-Saham Penopang Utamanya

        IHSG Naik 0,91% ke Level 6.231,78, Ini Saham-Saham Penopang Utamanya Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 56,25 poin atau setara 0,91% ke level 6.231,78 pada perdagangan Senin (20/7/2026).

        Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang sesi perdagangan IHSG bergerak di kisaran 6.197,47 hingga menyentuh level tertinggi 6.249,90.

        Sentimen positif juga tercermin dari pergerakan mayoritas saham di bursa. Sebanyak 399 saham ditutup menguat, 210 saham melemah, dan 185 saham lainnya bergerak mendatar. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI meningkat menjadi Rp10.860,65 triliun.

        Penguatan IHSG terutama ditopang oleh kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memimpin dengan penguatan 9 persen ke level Rp2.120 per saham.

        Selain itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turut menopang laju indeks setelah naik 1,88% menjadi Rp2.710 per saham.

        Saham unggulan lainnya yang juga berkontribusi terhadap penguatan IHSG antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang menguat 1,88%, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 1,78%, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang bertambah 1,68% ke level Rp3.020 per saham.

        Di sisi lain, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menjadi bintang perdagangan hari ini dengan mencatatkan kenaikan tertinggi (top gainers). Saham emiten Grup Bakrie tersebut melonjak 23,53% ke level Rp105 per saham, menjadikannya saham dengan penguatan terbesar pada penutupan perdagangan.

        Dalam riset yang diterbitkan pada Senin (20/7/2026), Phintraco Sekuritas mengungkapkan pergerakan pasar pekan ini masih akan dipengaruhi oleh berbagai sentimen global, mulai dari perkembangan sektor teknologi, konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga sejumlah agenda ekonomi penting dari dalam dan luar negeri.

        Dari pasar global, bursa saham Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat (17/7/2026). Koreksi tersebut terutama dipicu oleh tekanan pada saham-saham sektor semikonduktor.

        Menurut Phintraco, pelemahan itu terjadi setelah perusahaan rintisan asal China, Moonshot AI, meluncurkan model kecerdasan buatan (AI) terbaru yang dinilai mampu memperkecil kesenjangan teknologi dengan model AI buatan perusahaan Amerika Serikat seperti Anthropic dan OpenAI.

        Persaingan tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap tingginya belanja modal atau capital expenditure (capex) yang harus dikeluarkan perusahaan teknologi untuk mengembangkan AI, sementara permintaan dari pengguna dinilai masih sensitif terhadap harga.

        Selain isu teknologi, perhatian investor juga tertuju pada meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak dunia melonjak lebih dari 4 persen pada akhir pekan lalu.

        Konflik dilaporkan semakin meluas setelah Iran melakukan serangan ke Kuwait, Suriah, dan Bahrain. Sebagai balasan, Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah infrastruktur logistik dan maritim di Iran.

        "Perkembangan tersebut berpotensi menjadi perhatian utama pelaku pasar karena kenaikan harga minyak dapat memicu inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara," tulis Phintraco Sekuritas.

        Dari sisi agenda ekonomi global, pelaku pasar juga akan mencermati laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk Alphabet, Intel, Tesla, dan GE Vernova. Selain itu, keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB), serta rilis data inflasi, tingkat pengangguran, dan penjualan ritel Inggris diperkirakan turut memengaruhi sentimen pasar.

        Sementara itu, dari dalam negeri, investor akan menantikan sejumlah indikator ekonomi penting, seperti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait suku bunga yang dijadwalkan pada 22 Juli 2026, data pertumbuhan kredit pada tanggal yang sama, serta publikasi jumlah uang beredar (M2 Money Supply) pada 23 Juli 2026.

        Baca Juga: IHSG Awali Pekan di Zona Hijau, Investor Siap Hadapi Keputusan BI

        Baca Juga: IHSG Berpeluang Uji Level 6.300, Berikut Rekomendasi Saham Pilihan

        Phintraco menilai sentimen domestik mulai menunjukkan perbaikan, seperti aksi beli bersih (net buy) investor asing yang terjadi selama dua hari perdagangan berturut-turut pada pekan lalu.

        Meski demikian, Phintraco mengingatkan kenaikan harga minyak masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap defisit APBN, inflasi, nilai tukar rupiah, hingga prospek kebijakan suku bunga di Indonesia.

        "Secara teknikal, IHSG masih memiliki peluang untuk menguji area 6.225 hingga 6.280 pada pekan ini," sebut Phintraco Sekuritas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: