Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Loyo ke Rp17.920 per USD Setelah BI Tahan Suku Bunga

        Rupiah Loyo ke Rp17.920 per USD Setelah BI Tahan Suku Bunga Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.920 atau melemah 65 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.888 per USD.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan ini terjadi usai Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan BI-Rate di level 5,75%. 

        Bersamaan dengan keputusan ini, BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%.

        "Adapun, dengan keputusan menahan suku bunga acuan ini, BI mendorong kebijakan lain, yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing ke pasar uang Indonesia dalam rangka tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," kata Ibrahim kepada wartawan.

        BI, lanjut Ibrahim, memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas.

        Di sisi lain, kata Ibrahim, pelemahan rupiah hari ini juga dipengaruhi kondisi makro ekonomi RI. APBN membukukan defisit sebesar Rp196,5 triliun pada akhir Juni 2026 atau semester I/2026, defisit APBN itu setara dengan 0,76% dari produk domestik bruto (PDB). 

        Sedangkan, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun per Juni 2026. Realisasi itu setara 46,3% dari target pendapatan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.153,6 triliun.

        Sementara itu, belanja negara sudah mencapai Rp1.656 triliun per Juni 2026. Realisasi itu setara 43,1% dari target belanja negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.842,7 triliun. Artinya, belanja negara masih lebih banyak dari pendapatan negara. 

        Baca Juga: Purbaya Umumkan Defisit APBN Juni 2026 sebesar Rp196,5 triliun

        Baca Juga: Tok! BI Tahan BI Rate di Level 5,75% pada Juli 2026

        Sedangkan, target keseimbangan primer didesain defisit sebesar Rp89,7 triliun atau sudah terlewati. Adapun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak sedikit penurunan defisit APBN.

        Pada akhir Juni 2025, defisit APBN mencapai Rp197 triliun atau setara 0,81% dari PDB. Artinya, defisit APBN Maret 2026 yang sebesar Rp196,5 triliun turun 0,25% dibandingkan APBN Juni 2025. Sebagai informasi, pemerintah mendesain defisit APBN 2026 setahun penuh sebesar Rp689,1 triliun atau setara 2,68% terhadap PDB.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: