Kredit Foto: Antara/Hasrul Said
Jurnalis senior Hersubeno Arief menyoroti dua momen berbeda dalam Sidang Kabinet Merah Putih yang melibatkan Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026), Gibran duduk sejajar dengan para Menteri Koordinator dan tidak lagi di samping Presiden Prabowo Subianto.
Spekulasi pun bermunculan, salah satunya menyebut Gibran diam-diam “diturunkan pangkatnya” dari Wakil Presiden menjadi setara dengan Menko.
"Narasinya berubah menjadi liar. Ada yang menyebut Gibran diam-diam pangkatnya itu sudah diturunkan, atau posisinya itu sekarang hanya sekelas Menko dan tidak lagi berperan sebagai Wakil Presiden," ujarnya dalam kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Rabu (22/7).
Hersu menegaskan bahwa secara konstitusional, posisi Wakil Presiden tetap berada di atas Menko. Wapres memiliki kewenangan menggantikan Presiden apabila berhalangan tetap, meninggal dunia, atau mengundurkan diri.
Baca Juga: Kasus Ijazah Jokowi Merembet, Roy Suryo Klaim Gibran Lebih Berat dan Bisa Dipidana
"Padahal kan Wakil Presiden ini, bagaimanapun juga, kelasnya pasti di atas para Menko karena dia kan setiap saat akan bisa menggantikan posisi Presiden," jelasnya.
Isu ini kemudian dikaitkan dengan dugaan rivalitas dingin antara Presiden Prabowo dan mantan Presiden Joko Widodo, ayah dari Gibran. Hubungan keduanya disebut tidak lagi sehangat di awal pemerintahan, di mana pertemuan sering diselingi dengan makan bersama baik di Solo maupun di Istana. Kini, keduanya terlihat sibuk dengan urusan masing-masing.
Hersu juga mengingatkan momen rapat paripurna Kabinet Merah Putih pada 23 Oktober 2024, ketika Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terlihat menunduk hingga nyaris mencium tangan Gibran saat bersalaman.
"Tapi justru perhatian publik malah tertuju pada sikap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ketika dia bersalaman dengan Gibran dengan kepala tertunduk nyaris mencium tangannya wakil presiden. Sementara ketika dia sebelumnya menyalami Presiden Prabowo Subianto itu dia hanya bersikap selayaknya saja," ujarnya.
Sikap Bahlil kala itu memicu kehebohan karena dikaitkan dengan posisinya sebagai orang dekat Joko Widodo yang dititipkan di kabinet Prabowo. Bahlil sebelumnya dikenal sebagai menteri kesayangan Jokowi dan kemudian naik menjadi Ketua Umum Golkar menggantikan Airlangga Hartarto yang mundur akibat kasus ekspor CPO.
Baca Juga: Tak Lagi di Samping Prabowo, Gibran Diserang Soal Ijazah Boncos
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memberikan klarifikasi resmi terkait posisi duduk Gibran. Ia menegaskan bahwa perubahan tata letak meja sidang murni karena kebutuhan teknis operasional, bukan karena adanya keretakan politik.
"Kalau saudara-saudara kemarin perhatikan adalah bapak presiden berada di tengah-tengah. Dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari bapak wakil presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata, tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan," ujar Prasetyo.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: