Hasil Investasi Naik 9,54%, Taspen Parkir 50% Dana Investasi di SBN
Kredit Foto: Istimewa
PT Taspen (Persero) mempertahankan sekitar 50% portofolio investasinya pada Surat Berharga Negara (SBN)sebagai strategi menjaga stabilitas pengelolaan dana di tengah dinamika pasar keuangan. Instrumen tersebut menjadi tulang punggung investasi perseroan untuk menjaga keseimbangan antara imbal hasil dan risiko sekaligus menopang pembayaran manfaat kepada peserta.
Kepala Divisi Capital & Money Market Investment Taspen Galuh Candra Kirana mengatakan SBN masih menjadi instrumen terbesar dalam portofolio investasi perusahaan. Selain dinilai memiliki tingkat risiko yang relatif rendah, instrumen tersebut juga memberikan stabilitas terhadap kinerja investasi jangka panjang.
"Sebenarnya kalau di kita tuh di pasar uang juga memang ada di saham sama obligasi, mostly portofolio kita itu paling banyak di surat utang negara," kata Galuh dalam agenda Press Club di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Menurut Galuh, alokasi investasi pada SBN mencapai hampir separuh dari total portofolio. Sementara itu, dana selebihnya ditempatkan pada berbagai instrumen lain sebagai bagian dari strategi diversifikasi.
"Porsinya hampir 50% di SBN. Selebihnya kita tempatkan di obligasi korporasi dan kemudian yang kedua itu kita tempatkan juga ada penempatan kita di deposito," ujarnya.
Ia menjelaskan, deposito menyumbang sekitar 15% dari total portofolio investasi. Adapun sisa dana ditempatkan pada saham, reksa dana, serta investasi langsung dengan mempertimbangkan profil risiko dan potensi imbal hasil masing-masing instrumen.
Strategi diversifikasi tersebut dijalankan untuk menjaga keseimbangan antara keamanan dana, likuiditas, dan optimalisasi hasil investasi, mengingat Taspen mengelola dana jangka panjang milik aparatur sipil negara (ASN) dan pensiunan.
Kinerja investasi menjadi salah satu penopang utama keuangan perseroan. Direktur Utama Taspen Rony Hanityo Aprianto sebelumnya mengungkapkan hasil investasi perusahaan sepanjang 2025 mencapai Rp9,87 triliun, meningkat 9,54% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp9,01 triliun.
Menurut Rony, kontribusi hasil investasi menjadi semakin penting karena nilai klaim yang harus dibayarkan perseroan masih melampaui penerimaan iuran.
Baca Juga: Pemerintah Godok Pembayaran Utang Rp25,8 Triliun ke TASPEN, Target Mulai Cair 2027
Baca Juga: Taspen Life Cetak Lonjakan Laba Bersih 526,7% di Tengah Penerapan PSAK 117
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Skema Cicil Utang Rp25,8 Triliun ke Taspen, Kapan Dibayar?
Sepanjang 2025, Taspen membukukan beban klaim sebesar Rp14,9 triliun, sedangkan realisasi iuran hanya mencapai Rp7,7 triliun. Selisih tersebut ditopang oleh hasil investasi sehingga perusahaan tetap mampu menjaga kinerja keuangannya.
Selain mengelola investasi untuk program Tabungan Hari Tua (THT), TASPEN juga mengelola dana pada program Akumulasi Iuran Pensiun (AIP). Pada program tersebut, perusahaan memperoleh pendapatan dari pengelolaan investasi yang turut memperkuat kinerja perseroan.
"Dan juga yang menjadi sumber lainnya itu adalah pendapatan lain-lain yang banyak disumbangkan oleh feepengelolaan investasi di akumulasi iuran pensiun. Jadi kita punya dua buku, satu THT, satu AIP. Dan untuk hasil investasi di AIP kita mendapatkan fee sebesar 6,7% gross atau kalau di net 5%. Itu yang menambah pendapatan Taspen," ujar Rony saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: