Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Nauli Ecoprint, UMKM Ramah Lingkungan dari Sumut

        Nauli Ecoprint, UMKM Ramah Lingkungan dari Sumut Kredit Foto: Khairunnisak Lubis
        Warta Ekonomi, Sumatera Utara -

        Warta Ekonomi, Medan - Berawal dari kepedulian terhadap kelestarian alam, Nauli Ecoprint kini berkembang menjadi salah satu UMKM binaan Bank Indonesia (BI) yang konsisten menghadirkan produk kerajinan berbahan alami dan ramah lingkungan. Di balik perjalanan tersebut, berdiri sosok Sari Risnasari, owner Nauli Ecoprint, yang terus berupaya membawa produk lokal Sumatera Utara menembus pasar yang lebih luas.

        Sari merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Ia berasal dari keluarga sederhana asal Padang Lawas Utara, di mana kedua orang tuanya menjalankan usaha bengkel. Semangat berwirausaha yang ditanamkan keluarga menjadi bekal baginya dalam mengembangkan bisnis berbasis pemanfaatan sumber daya alam.

        Nauli Ecoprint sendiri mulai dirintis pada 2019 oleh seorang dosen Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) dari Jurusan Teknik Hasil Hutan. Berawal dari penelitian mengenai pemanfaatan hasil hutan, seperti pewarna alami dari kulit kayu mahoni, bakau laut, serta serat alam untuk kain, lahirlah berbagai produk ecoprint yang mengedepankan nilai keberlanjutan.

        Pada 2020, Nauli Ecoprint resmi didaftarkan sebagai UMKM dan memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB). Sejak saat itu, berbagai pesanan mulai berdatangan dan usaha terus berkembang.

        Sari mengungkapkan, sejak 2022 pihaknya mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan Bank Indonesia. Kemudian pada 2023, Nauli Ecoprint resmi menjadi UMKM binaan BI.

        Melalui program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WuBI), Nauli Ecoprint mendapatkan berbagai pembinaan, mulai dari peningkatan kualitas produk, strategi pemasaran, hingga kolaborasi dengan UMKM lainnya.

        "Sebelum bergabung menjadi binaan BI, belum banyak yang mengenal produk kami. Setelah mendapatkan pembinaan, semakin banyak masyarakat yang mengetahui Nauli Ecoprint," ujar Sari, Jumat (24/7/2026).

        Selain mengikuti program WuBI, Sari juga aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan kapasitas yang difasilitasi BI, seperti Capacity Building di Berastagi yang diikuti sekitar 177 peserta serta studi banding ke Bali pada 2025.

        Bahkan pada tahun yang sama, Bank Indonesia membawa brand Nauli Ecoprint mengikuti promosi produk di Malaysia dan Jakarta sebagai bagian dari upaya memperluas pasar UMKM Indonesia.

        Saat ini, Nauli Ecoprint menghadirkan beragam produk berbahan alami, seperti gantungan kunci resin berisi bunga asli yang dikeringkan, tas kulit asli berbahan kulit domba, dompet kulit, hingga berbagai aksesori ramah lingkungan.

        Produk-produk tersebut dipasarkan dengan harga mulai Rp35 ribu hingga Rp1,3 juta. Selain melayani pesanan cenderamata, produk Nauli Ecoprint juga telah dipasarkan di Bandara Internasional Kualanamu dan mencatatkan penjualan rutin setiap bulannya.

        Menurut Sari, penggunaan bahan-bahan alami bukan sekadar nilai jual, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

        "UMKM harus semakin semangat menyampaikan bahwa produk berbahan alam itu penting untuk mengurangi limbah. Apalagi saat ini kondisi hutan sudah semakin gundul," katanya.

        Ke depan, Nauli Ecoprint juga tengah mengembangkan inovasi baru berupa kertas daur ulang dengan teknik ecoprint sebagai bagian dari komitmen menghadirkan produk yang semakin ramah lingkungan.

        Sari berharap Bank Indonesia terus memperkuat pembinaan bagi UMKM, khususnya dalam pelatihan, penyediaan foto produk profesional, dukungan pemasaran, serta mengikutsertakan pelaku usaha dalam berbagai pameran dan bazar.

        Selama tiga tahun terakhir, Nauli Ecoprint secara konsisten dilibatkan dalam berbagai kegiatan promosi, termasuk Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU), dengan menampilkan produk unggulan seperti gantungan kunci resin, tas kulit, dompet kulit, dan aneka kerajinan lainnya.

        Meski menghadapi berbagai tantangan, Sari tetap optimistis menjalankan usahanya. Menurutnya, tren penggunaan produk ramah lingkungan terus meningkat dan menjadi peluang besar bagi UMKM Indonesia.

        "Kami berharap kesadaran masyarakat terhadap produk ramah lingkungan semakin meningkat, seperti yang sudah diterapkan di negara-negara lain, misalnya Singapura. Itu menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi," tutupnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Khairunnisak Lubis
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: