Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PLN EPI Kembangkan Hidrogen Hijau untuk Industri dan Bahan Bakar Penerbangan

        PLN EPI Kembangkan Hidrogen Hijau untuk Industri dan Bahan Bakar Penerbangan Kredit Foto: PLN EPI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mulai membangun ekosistem hidrogen hijau sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas pemanfaatan energi rendah karbon di Indonesia. 

        Perusahaan membidik pasar hidrogen untuk sektor industri, pembangkit listrik, hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau electro-Sustainable Aviation Fuel (e-SAF).

        Vice President Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI, Anita Puspita Sari, mengatakan hidrogen menjadi salah satu pilar dalam peta jalan Net Zero Emissions (NZE) PLN Group 2060.

        Setelah mengembangkan bioenergi melalui program co-firing biomassa, PLN EPI kini memperluas portofolio bisnis energi primer dengan membangun rantai nilai hidrogen hijau.

        "Selain terus mengembangkan energi terbarukan, pembangkit nuklir, Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS), energy storage, dan Green Energy Super Grid, PLN Group juga menjadikan hidrogen dan amonia sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung sistem energi rendah karbon," ujar Anita dalam sesi Bioenergy to Biohydrogen: Unlocking the Next Clean Energy Opportunity pada Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta dikutip Senin (27/7/2026).

        Menurut Anita, pengembangan hidrogen dilakukan secara bertahap, mulai dari penyusunan model bisnis, pembangunan kemitraan, hingga penyiapan skema komersialisasi. 

        PLN EPI membuka peluang kerja sama melalui Hydrogen Gas Purchase Agreement (HGPA) maupun Kerja Sama Operasi (KSO) dengan mitra yang membangun fasilitas produksi hidrogen.

        Melalui skema tersebut, PLN EPI akan berperan sebagai agregator sekaligus penyedia pasokan hidrogen bagi berbagai sektor yang membutuhkan energi rendah karbon.

        "Sebagai subholding yang mengelola energi primer, kami melihat hidrogen sebagai komoditas energi masa depan. Peran PLN EPI tidak hanya memastikan ketersediaan pasokan, tetapi juga membangun ekosistem bisnis agar hidrogen dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh PLN Group maupun sektor industri," katanya.

        Pada tahap awal, PLN EPI membidik sektor industri yang memiliki kebutuhan hidrogen tinggi, antara lain industri pupuk dan amonia, kilang minyak dan petrokimia, industri baja dan logam, serta industri kimia. Sektor-sektor tersebut dinilai berpotensi menjadi pasar awal bagi pengembangan hidrogen hijau di Indonesia.

        Selain itu, PLN EPI juga melihat peluang pengembangan electro-Sustainable Aviation Fuel (e-SAF). 

        Teknologi tersebut mengombinasikan hidrogen hijau dengan karbon dioksida hasil penangkapan emisi untuk menghasilkan synthetic crude yang selanjutnya diolah menjadi bahan bakar penerbangan rendah karbon melalui konsep closed carbon loop.

        Anita mengatakan kebutuhan e-SAF diperkirakan terus meningkat seiring penerapan regulasi internasional yang mendorong penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan guna menekan emisi sektor aviasi.

        Baca Juga: PLN EPI Siapkan Ekosistem Biohidrogen, Bidik Optimalisasi 60 Juta Ton Biomassa

        Baca Juga: PLN EPI Tawarkan Kontrak 5 Tahun Bagi Produsen Biomassa Kualitas Tinggi

        "Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain penting dalam industri hidrogen hijau karena didukung sumber energi terbarukan yang melimpah. Tantangan berikutnya adalah mempercepat pembangunan ekosistem, penguasaan teknologi, serta menciptakan pasar yang mampu mendukung pengembangan hidrogen secara berkelanjutan," ujarnya.

        Dalam peta jalan NZE PLN Group, hidrogen dan amonia diproyeksikan menjadi bagian dari bauran energi jangka panjang. Seiring meningkatnya pemanfaatan energi baru terbarukan, pembangkit listrik berbasis gas juga akan dikembangkan menuju pemanfaatan co-firing hidrogen hingga 100% pada 2060 sebagai bagian dari transformasi sistem ketenagalistrikan nasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: