Kredit Foto: PLN EPI
Pengembangan Decentralized Waste Management (DWM) di Kota Bandung diarahkan melalui empat Sentra Waste Management (SWK) dengan potensi kapasitas pengolahan mencapai sekitar 1.200 ton sampah. Hasil pengolahan nantinya dijajaki untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi dan produk bernilai tambah.
Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara, Sigit Puji Santosa, mengatakan masing-masing SWK diproyeksikan memiliki kapasitas sekitar 300 ton sampah. Dengan empat SWK, total sampah yang berpotensi diolah mencapai sekitar 1.200 ton.
“Empat SWK bisa mengolah 1.200 ton. Ini yang akan kita jalankan,” ujar Sigit.
Pengembangan DWM tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), PT Danantara Development Management Fund (DDMF), PT Rekayasa Industri (Rekind), PT Pertamina Power Indonesia (PNRE), dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung. Komitmen ditandatangani di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2026) lalu.
Sigit mengatakan DWM dirancang untuk melengkapi, bukan menggantikan, pengelolaan sampah tersentralisasi melalui waste-to-energy (WTE).
“WTE adalah centralized untuk memanfaatkan energi. Sementara ini *decentralized waste management*. Jadi, ini tidak menggantikan WTE, tetapi complementary,” kata Sigit.
Menurut Sigit, pendekatan terdesentralisasi dapat diterapkan di wilayah yang belum memiliki skala ekonomi atau kondisi yang memungkinkan untuk membangun fasilitas WTE berskala besar. Pengolahan sampah yang lebih dekat dengan sumbernya juga dapat menekan kebutuhan pengangkutan dalam jarak jauh.
Sigit menargetkan satu hingga dua lokasi DWM mulai dikembangkan pada Desember 2026 atau Januari 2027, dengan Bandung menjadi salah satu lokasi prioritas. Pengembangan selanjutnya ditargetkan dapat diperluas hingga empat sampai lima lokasi.
Sementara itu, Managing Director Development Investment DDMF M. Rachmat Kaimuddin mengatakan pengembangan DWM perlu segera diarahkan ke tahap implementasi. Bandung menjadi salah satu lokasi awal untuk menguji penerapan model tersebut sebelum dikembangkan di daerah lain.
"Pengelolaan sampah tidak cukup dijawab melalui pembahasan dan kajian, tetapi harus segera dibuktikan melalui implementasi di lapangan. Bandung menjadi salah satu lokasi awal untuk menunjukkan bahwa model pengelolaan sampah terdesentralisasi dapat dijalankan dan selanjutnya direplikasi di daerah lain," kata Rachmat.
Dalam tahap awal, para pihak akan mengidentifikasi persoalan, kebutuhan, dan prioritas pengelolaan sampah di Bandung, termasuk mengkaji alternatif teknologi pengolahan. Kajian mencakup aspek teknis, lingkungan, sosial, ekonomi, komersial, finansial, hukum, kelembagaan, dan tata kelola.
Identifikasi juga dilakukan terhadap lokasi potensial dengan mempertimbangkan kesiapan lahan, akses, utilitas, tata ruang, dan lingkungan. Dari sisi bahan baku, kajian meliputi sumber, volume, karakteristik, kontinuitas, pengangkutan, hingga mekanisme penyediaan sampah.
Dalam skema tersebut, PLN EPI berperan sebagai calon pembeli atau penyerap produk hasil pengolahan DWM. PLN EPI akan menyampaikan kebutuhan dan spesifikasi indikatif produk serta melakukan penelaahan awal terhadap aspek teknis, kualitas, kuantitas, kontinuitas, logistik, dan potensi pemanfaatannya dalam rantai pasok energi primer.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan pengembangan DWM memiliki keterkaitan dengan upaya memperluas pemanfaatan sumber energi berbasis limbah. PLN EPI selama ini mengembangkan rantai pasok biomassa untuk mendukung substitusi sebagian bahan bakar fosil pada pembangkit melalui program cofiring.
Baca Juga: PLN EPI Pastikan Pengembangan Biomassa Tanpa Deforestasi
Baca Juga: PLN EPI Targetkan Pasokan 3,65 Juta Ton Biomassa untuk 52 PLTU pada 2026
“Di PLN EPI, kita melakukan substitusi bahan-bahan fosil menjadi bahan-bahan berbasis hayati untuk kelangsungan energi kita melalui cofiring,” kata Hokkop.
Menurut Hokkop, PLN telah memanfaatkan sekitar 2,5 juta ton biomassa dalam satu tahun terakhir. Sekitar 99% di antaranya berasal dari limbah agro.
“Dari semua yang kita paparkan, kita baru deploy 2,5 juta ton. Ternyata potensi limbah agro kita bisa menyentuh 80 juta ton per tahun,” ujar Hokkop.
Saat ini, PLN EPI memiliki sekitar 180 kontrak aktif dalam rantai pasok biomassa. Sekitar 60% di antaranya melibatkan pelaku usaha muda.
Meski demikian, penandatanganan komitmen bersama ini masih merupakan tahap awal dan belum menjadi keputusan pembangunan proyek secara definitif. Para pihak masih akan melakukan kajian, identifikasi lokasi, pengujian konsep dan teknologi, serta penyusunan model kerja sama sebelum memasuki tahap implementasi.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra