Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Henri Subiakto: Prabowo Bangun ‘Negara dalam Negara’ dengan Program Baru

        Henri Subiakto: Prabowo Bangun ‘Negara dalam Negara’ dengan Program Baru Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Guru Besar Universitas Airlangga (UNAIR), Henri Subiakto, melontarkan kritik terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menurutnya tengah membangun “negara dalam negara.”

        Henri menyoroti bahwa Indonesia sudah memiliki ribuan universitas, koperasi unit desa, dan sekolah dasar. Namun, Prabowo tetap berencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI), ribuan koperasi baru melalui program Koperasi Desa Merah Putih, serta sekolah baru lewat program Sekolah Rakyat.

        "Presiden Prabowo kok seperti orang gak sadar, bikin Negara dalam Negara. Di Indonesia sudah ada ribuan Universitas, termasuk ratusan Universitas Negeri, tapi dia masih bikin 10 Universitas Baru. Sudah ribuan Koperasi Unit Desa di seluruh Indonesia, tapi masih bikin ribuan koperasi Baru. Sudah puluhan ribu Sekolah Dasar di seluruh Indonesia, tapi tetap saja bikin Sekolah Baru, Sekolah Rakyat," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Selasa (27/7).

        Menurutnya, Prabowo seolah menganggap lembaga yang sudah ada tidak baik, sehingga lebih memilih membuat institusi baru ketimbang membenahi yang lama. Henri juga menilai langkah tersebut berpotensi melanggar regulasi. 

        "Malah apa yang dilakukan berpotensi melanggar regulasi. Jadi sebenarnya Prabowo itu presiden mana sih?" ucap pakar hukum siber itu.

        Baca Juga: Di Balik Perry Warjiyo Tinggalkan Prabowo: Gubernur BI Dulu Tak Mundur Bahkan Saat Krisis 1998

        Henri menambahkan, ironisnya di saat bersamaan Prabowo justru belum bisa menunjuk Kapolri baru, Panglima TNI baru, Jaksa Agung baru, maupun menteri-menteri pengganti dari kabinet sebelumnya. Padahal, publik banyak menyuarakan perlunya pembaruan di sektor-sektor tersebut.

        "Persoalan persoalan ini tetap saja tidak ada pembaharuan atau perubahan yang baik. Apakah karena mampet di persoalan itu, lalu keinginan pembaruan justru disalurkan pada hal hal baru yang sebenarnya tidak dibutuhkan? Aneh banget cara kerja dan pemikiran Presiden kita satu ini," tandasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: