Prospek Infrastruktur Telekomunikasi Masih Cerah, Reli Saham BACH Curi Perhatian
Kredit Foto: Istimewa
Reli saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menjadi sorotan pelaku pasar setelah perusahaan tersebut resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Sejak mencatatkan saham perdana dengan harga IPO Rp442 per saham, BACH langsung menguat 24,43 persen pada hari pertama perdagangan dan dalam beberapa hari berikutnya sempat menyentuh level Rp685 per saham sebelum mengalami konsolidasi.
Di tengah tingginya minat investor terhadap saham BACH, prospek sektor infrastruktur telekomunikasi dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar seiring percepatan transformasi digital, pengembangan jaringan 5G, hingga meningkatnya kebutuhan layanan berbasis artificial intelligence (AI) dan cloud computing.
Pengamat CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menilai sektor infrastruktur telekomunikasi masih memiliki peluang pertumbuhan yang kuat dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Menurutnya, kebutuhan pembangunan menara telekomunikasi dan jaringan fiber optic akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya kebutuhan pelanggan maupun korporasi.
"Masih besar 3-5 tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optic masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat," ujar Dipo kepada media.
Ia menjelaskan, transisi dari jaringan 4G menuju 5G membutuhkan densitas menara yang lebih tinggi melalui pembangunan microcells. Di sisi lain, karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan turut menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pengembangan infrastruktur telekomunikasi.
Menurut Dipo, kebutuhan terhadap infrastruktur dasar seperti pasokan listrik, menara telekomunikasi, jaringan serat optik, hingga kabel bawah laut masih akan menjadi prioritas. Sementara itu, meningkatnya penggunaan internet, AI, dan cloud computing diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor tersebut.
Ia menilai perusahaan pendukung telekomunikasi memegang peran strategis dalam menjaga keandalan infrastruktur digital nasional.
"Sangat strategis karena mereka adalah penentu keandalan dan keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital," katanya.
Dipo menambahkan, pasokan listrik yang belum stabil serta jaringan fiber optic yang belum terintegrasi di sejumlah daerah membuat peran perusahaan pendukung semakin penting.
"Tanpa reliability dari internet dan telekomunikasi, ekonomi digital tidak bisa terbangun," tegasnya.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Yosef M. Edward. Menurutnya, keandalan sistem daya menjadi faktor utama dalam pembangunan Base Transceiver Station (BTS).
"Pemilihan pemasangan BTS yang pertama dilihat ketersediaan sistem daya dan keandalannya. Jadi merupakan prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur BTS," ujarnya.
Ian menjelaskan konsep redundansi pasokan listrik menjadi aspek penting dalam menjaga operasional BTS. Skema tersebut dapat berupa satu sumber listrik PLN yang didukung satu genset cadangan maupun kombinasi antara PLN, baterai, dan genset untuk memastikan ketersediaan daya tetap terjaga.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Menteng Kleb Fauzan Luthsa menilai meningkatnya perhatian investor terhadap BACH tidak hanya dipicu oleh reli harga saham, tetapi juga oleh masuknya Grup Djarum melalui PT Global Teknologi Perkasa (GTP) sebagai pemegang saham pengendali perseroan.
"Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh," katanya.
Menurut Kleb, selama ini BACH lebih dikenal sebagai perusahaan penyedia genset. Padahal, berdasarkan prospektus perseroan, perusahaan menangani sekitar 41.000 site telekomunikasi sehingga telah menjadi bagian dari ekosistem infrastruktur telekomunikasi nasional.
Baca Juga: Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus, MK Putuskan Hak Pengguna Jasa Telekomunikasi Wajib Dilindungi
"Selama ini banyak investor mengenal BACH sebagai perusahaan genset. Padahal, kalau melihat prospektusnya, perseroan menangani sekitar 41.000 site telekomunikasi. Artinya, BACH sudah menjadi bagian dari ekosistem infrastruktur telekomunikasi. Menurut saya, pemahaman inilah yang mulai berkembang di pasar," ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pada akhirnya investor tetap akan menilai fundamental dan kinerja perusahaan.
"Pada akhirnya pasar tetap akan melihat kinerja perusahaan. Namun, perubahan cara pandang terhadap model bisnis BACH menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong meningkatnya perhatian investor," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: