Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Stok Rudal Terkuras, Amerika Serikat Jadi Sasaran Empuk China Gegara Perang Iran

        Stok Rudal Terkuras, Amerika Serikat Jadi Sasaran Empuk China Gegara Perang Iran Kredit Foto: AP Photo/Andy Wong
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai memunculkan kekhawatiran baru bahwa negara tersebut akan menjadi sasaran empuk dari China. Hal tersebut menyusul terkurasnya persediaan senjata dari Washington di Timur Tengah.

        Penasihat Senior bidang Pertahanan dan Keamanan di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Kolonel Marinir Amerika Serikat (Purn) Mark Cancian mengatakan negara itu sebenarnya masih memiliki kemampuan untuk melanjutkan perang melawan Iran. Namun, menurutnya, persoalan utama justru terletak pada kesiapan menghadapi konflik berikutnya.

        Baca Juga: Terjadi Saat Elektabilitas Prabowo Turun, Ada 'Bayang-bayang' di Balik Safari dan Gelar Raja Jokowi

        "Kita bisa terus menghadapi musuh dalam waktu yang cukup lama; bahkan jika kita sudah menggunakan separuh dari persediaan, itu berarti separuh persediaan lainnya masih tersedia," kata Mark Cancian, dikutip Rabu (5/8/2026).

        Ia menegaskan bahwa ancaman terbesar bukan berasal dari Iran. Menurutnya, ancaman tersebut justru kemungkinan pecahnya konflik di Pasifik Barat.

        "Risikonya berkaitan dengan konflik di masa depan melawan China di Pasifik Barat," ungkapnya.

        Menurut Cancian, berkurangnya stok amunisi strategis telah menjadi perhatian serius di lingkungan militer dari Amerika Serikat. Kekhawatiran tersebut bahkan disebut menjadi salah satu alasan dihentikannya sementara serangan udara dalam operasi militer sebelumnya.

        Amerika Serikat dilaporkan telah menghabiskan lebih dari separuh persediaan untuk beberapa sistem persenjataan selama operasi militer melawan Iran. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi daya gentar militer negara tersebut terhadap ancaman lain di masa depan.

        "Menipisnya persediaan amunisi merupakan topik utama sekaligus alasan utama dihentikannya serangan udara," ujarnya.

        Ia menambahkan bahwa menurunnya persediaan senjata presisi berpotensi mengubah kalkulasi strategis negara lain, terutama China.

        "Persediaan kami sudah jauh di bawah tingkat yang diinginkan oleh para perencana perang; hal itu bisa mendorong musuh untuk mengambil tindakan,"

        Data yang dipaparkan menunjukkan skala penggunaan persenjataan selama perang cukup signifikan. Hampir sepertiga stok rudal jelajah negara tersebut telah digunakan sejak konflik dengan Iran.

        Situasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa apabila terjadi eskalasi di Indo-Pasifik. Amerika Serikat dikhawatirkan tidak lagi memiliki cadangan persenjataan yang ideal sesuai kebutuhan perencanaan militer.

        Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap menepis kekhawatiran soal menipisnya stok senjata dari Amerika Serikat. Ia menegaskan pihaknya masih memiliki persediaan amunisi yang cukup untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.

        Meski demikian, ia tetap mengedepankan jalur diplomasi meski terdapat sikap bertolak belakang dari Iran. Menurut Trump, Iran bersikap tidak konsisten dalam menyampaikan posisi resminya kepada publik. Ia mengklaim negara tersebut telah meminta agar diadakan pertemuan dengan Amerika Serikat. Namun Teheran kkini justru menyatakan tidak pernah melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat.

        Baca Juga: PDIP: Ibarat Orang Haus Minum Air Laut, Begitulah Jokowi

        "Kepemimpinan Iran luar biasa bermuka dua! Mereka meminta pertemuan, bahkan ada yang menyebut memohon. Pembicaraan dimulai, dengan pertemuan lanjutan yang sudah dijadwalkan dalam waktu dekat, tetapi kemudian mereka secara terbuka dan dengan bangga mengatakan bahwa mereka tidak mengadakan diskusi apa pun, tidak ada yang sedang dibahas, dan mereka hanya berurusan dengan Oman," ungkap Donald Trump.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: