Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Danantara Dorong Indonesia Tak Hanya Kaya dari Kelola Nikel-Bauksit

        Danantara Dorong Indonesia Tak Hanya Kaya dari Kelola Nikel-Bauksit Kredit Foto: Danantara
        Warta Ekonomi, Jakarta -
        Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mendorong investasi pada sektor hilirisasi agar punya nilai tambah lebih. Sehingga pengelolaan bahan baku material seperti nikel, tembaga, hingga bauksit punya value lebih tinggi untuk pengembangan industri di masa depan.

        Managing Director Industrialization Danantara, Ardy Muawin, mengatakan penguasaan material maju menjadi hal penting untuk membangun kapabilitas nasional.

        Penguasaan tersebut memungkinkan Indonesia bertransformasi dari negara yang mengandalkan kekayaan sumber daya alam (resource-rich country) menjadi negara dengan basis industri dan teknologi yang kuat (capability-driven country).

        “Konsep kami dalam mengajak mitra investasi bukan hanya soal biaya dan waktu, tapi juga industrial development. Kami ingin ada transfer teknologi, co-development, hingga keterlibatan universitas dan lembaga riset seperti BRIN, sehingga pengembangan lanjutan itu nantinya bisa menjadi milik Indonesia," kata Ardy dalam keterangan tertulis, Selasa (11/8/2026).

        Merujuk catatan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), sektor mineral masih menjadi tulang punggung investasi hilirisasi dengan nilai mencapai Rp 206,5 triliun sepanjang semester I 2026.

        Investasi tersebut berasal dari hilirisasi nikel sebesar Rp 71 triliun, bauksit Rp 53,8 triliun, tembaga Rp 37,4 triliun, besi dan baja Rp 30,2 triliun, pasir silika Rp 5,9 triliun, serta berbagai komoditas mineral lainnya senilai Rp 8,2 triliun.

        Senada, CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan, pihaknya sepakat bahwa sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju. Dalam konteks tersebut, Danantara berperan sebagai enabler dengan memperkuat ekosistem industri melalui kolaborasi pemerintah, BUMN, industri, dan akademisi.

        "Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth. Bahan-bahan ini menjadi fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan, dan energi bersih. Namun, selama puluhan tahun kita terlalu sering berhenti di titik ekstraksi: mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga yang berkali-kali lipat," ujar Rosan.

        Baca Juga: OJK Siapkan Aturan Main Pemegang Saham BEI, Buka Jalan Kemenkeu, BI, dan Danantara Jadi Pemilik

        Baca Juga: Ini Daftar Lengkap Saham yang Dikuasai Danantara di Pasar Modal

        Pendekatan tersebut menjadi bagian dari arah investasi Danantara yang tidak hanya berorientasi pada penciptaan nilai ekonomi, tetapi juga pada dampak nyata bagi masyarakat. Investasi jangka panjang diarahkan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, membuka lapangan pekerjaan berkualitas, memperkuat kapabilitas industri dan teknologi nasional, serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

        "Ini sudah menjadi komitmen Danantara agar investasi menciptakan nilai bagi bangsa," pungkas Rosan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: