'Jangan Diskusi dengan Teddy' Argumen Prabowo soal Pendidikan Indonesia Tertinggal Disorot
Kredit Foto: BPMI
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung ketertinggalan pendidikan Indonesia dibandingkan Singapura memantik kritik. Pegiat media sosial Ferry Koto menilai persoalan pendidikan Indonesia tidak bisa dijelaskan hanya dengan membandingkan ukuran wilayah atau jumlah penduduk antarnegara.
Ferry bahkan menyebut ada persoalan yang lebih mendasar, termasuk kebijakan pemerintah pusat yang dinilainya kerap berubah-ubah. Ia pun menyentil pihak-pihak yang menjadi teman diskusi Presiden Prabowo terkait urusan pendidikan, termasuk Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.
"Ini lah dampak jika Presiden @prabowo diskusi soal persekolahan dengan Teddy dkk, bukan dengan Menteri yg mengurusi pendidikan," tulisnya di akun X, dikutip Rabu (12/8/2026).
"Minimal diskusi dgn saya pak, akan sy tunjukan fatal sekali kelirunya bapak membela diri tertinggalnya pendidikan Indonesia dibanding Singapura karena Singapura jauh lebih kecil," lanjutnya.
Lagipula jika alasan ukuran negara digunakan untuk menjelaskan ketertinggalan pendidikan Indonesia, Ferry meminta Prabowo melihat China yang memiliki wilayah serta jumlah penduduk jauh lebih besar, tapi kondisi tersebut tidak lantas membuat pendidikan di sana tertinggal.
"Jika ingin maju persekolahan kita seperti Singapura dan China, ya tinggal Presidennya punya visi dan program yang jelas saja sebenarnya. Dan yang penting, teman diskusinya jangan Teddy Pak Presiden," ungkapnya.
Baca Juga: 'Edan Jika Dilakukan' Prabowo Harus Dicegah soal Proyek Cetak Ulang Buku Sekolah
Nyatanya, kata Ferry, Indonesia sejak 2001 telah mendistribusikan kewenangan pengelolaan sekolah kepada pemerintah daerah. Ferry merinci perubahan kewenangan tersebut berdasarkan aturan yang berlaku.
"Pak Prabowo, sejak 2001, Indonesia sudah mendistribusikan kewenangan pengelolaan sekolah ke Pemda. Ingat dari 2001. Dulu, sebelum UU Pemda (UU 23/2014), seluruh sekolah formal itu dari SD sampai SLTA dikelola Kabupaten/Kota. Setelah UU Pemda, mulai 2016, kewenangan konkuren pengelolaan SLTA ke Provinsi, sementara SD sampai SLTP tetap di Kab/Kota," ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, Ferry menilai perbandingan antara Singapura dan pemerintah daerah di Indonesia tetap dapat dilakukan jika melihat jumlah penduduk, luas wilayah, serta jumlah sekolah yang harus dikelola.
"Jadi, jika dibanding jumlah penduduk, luasan daerah, jumlah sekolah yang diurus, maka lebih kurang sama saja antara Singapura dan Pemda. Tapi kenapa tetap saja tertinggal?"
Menurut Ferry, pihak yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan tentu memahami bahwa salah satu persoalan justru berada pada pemerintah pusat. Ia menyoroti kebijakan pendidikan yang dinilai sering berubah, mulai dari kurikulum hingga pembiayaan.
"Bagi orang yang lama di urusan pendidikan, pasti tahu masalahnya pak, yaitu pemerintah pusat. Dimana Pempus membuat kebijakan yang suka berubah-ubah, mulai dari Kurikulum hingga kebijakan pembiayaan pendidikan. Walau tak menutup mata, ada juga daerah yang tidak beres mengurusi persekolahan," katanya.
Ferry kemudian membandingkan kebijakan pendidikan Singapura dengan pemerintah Indonesia. Ia mengambil contoh kebijakan terkait kesejahteraan guru yang akan diberlakukan di Singapura.
Pemerintah Singapura belum lama ini mengambil kebijakan menaikkan gaji guru sekian persen mulai 1 Oktober mendatang. Padahal, menurut Ferry, gaji guru di Singapura sudah jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
Ia menilai alasan kebijakan tersebut cukup jelas, yakni memastikan profesi guru tetap menarik bagi talenta terbaik. Gaji guru, menurutnya, harus lebih tinggi dari rata-rata profesi lainnya agar orang-orang berkualitas tidak memilih meninggalkan profesi tersebut.
Baca Juga: 'Kirain Sudaryono Lebih Baik dari Nanik dan Dadan, Ternyata Sama Sering Blunder'
"Bandingkan dgn pemerintahan bapak. Bukannya menaikan Gaji Guru yang masih sangat-sangat rendah (tidak manusiawi menurut saya) yang dipikirkan agar talenta terbaik berlomba jadi guru, malah otak-atik soal buku. Malah punya ide memperbaharui seluruh buku sekolah yang tidak perlu dilakukan karena kita sudah punya BSE atau SIBI," ucap Ferry.
Tak berhenti di persoalan guru dan buku, Ferry turut menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah lainnya di bidang pendidikan. Salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya memiliki anggaran mencapai ratusan triliun rupiah.
Ia membandingkan besarnya anggaran tersebut dengan pembangunan dan perbaikan gedung sekolah yang dilakukan secara bertahap karena alasan keterbatasan anggaran.
"Negara lain serius dan fokus membereskan pendidikan rakyatnya, pak Presiden. Di Negara kita malah cari-cari proyek di bidang pendidikan yang acap tidak ada hubungan dgn peningkatan kualitas pendidikan," sambungnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: