Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada perdagangan sesi I, Jumat (14/8/2026), setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan di Kompleks Parlemen, Senayan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada penutupan sesi I naik 35,43 poin atau 0,56% ke level 6.337,19, setelah sempat dibuka melemah di 6.296,59. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak di rentang 6.267,41-6.343,11.
Penguatan IHSG terjadi di tengah aktivitas transaksi yang cukup tinggi. Nilai transaksi mencapai Rp6,48 triliun dengan volume 17,04 miliar saham dan frekuensi perdagangan 1,03 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.098 triliun.
Secara keseluruhan, sebanyak 305 saham menguat, 315 saham melemah, dan 343 saham ditutup tidak berubah hingga akhir sesi pertama.
Meski indeks berhasil menghijau, aliran dana asing masih menunjukkan tekanan. Data Mirae Asset Sekuritas mencatat investor asing melakukan pembelian senilai Rp1,73 triliun, sementara penjualan mencapai Rp2,11 triliun, sehingga terjadi net sell sebesar Rp377,63 miliar di seluruh pasar.
Aksi beli bersih asing terbesar tercatat pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) senilai Rp43,65 miliar, disusul PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp33,13 miliar, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Rp24,05 miliar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp13,25 miliar, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp13,04 miliar.
Di sisi lain, tekanan jual asing paling besar terjadi pada saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp213,13 miliar. Saham lain yang banyak dilepas investor asing antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp67,61 miliar, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp55,57 miliar, PT Indosat Tbk (ISAT) Rp48,17 miliar, serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp38,10 miliar.
Baca Juga: IHSG Melemah Jelang Pidato Prabowo dan Penyampaian RAPBN 2027
Baca Juga: Usai Anjlok, IHSG Berpotensi Rebound
Penguatan IHSG terjadi setelah Presiden Prabowo dalam pidatonya menyampaikan sejumlah indikator ekonomi yang menjadi perhatian pelaku pasar. Di antaranya target pertumbuhan ekonomi 6% pada akhir 2026, proyeksi dividen BUMN mencapai Rp200 triliun tanpa penyertaan modal negara (PMN), hingga klaim pencapaian swasembada delapan komoditas pangan.
Meski demikian, aksi jual investor asing menunjukkan pelaku pasar masih melakukan konsolidasi sambil mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah yang akan dituangkan dalam RAPBN 2027.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri