Subsidi BBM Dipangkas Bertahap, Warga Bakal Dipaksa Beralih ke Kendaraan Listrik?
Kredit Foto: Istimewa
Rencana pemerintah mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) secara bertahap perlu diikuti dengan kesiapan ekosistem kendaraan listrik. Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai, percepatan elektrifikasi transportasi dapat menjadi salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi impor.
Chief Executive Officer (CEO) IESR, Fabby Tumiwa, mengatakan rencana pemberian insentif untuk motor listrik produksi dalam negeri berpotensi memberikan sejumlah manfaat. Kebijakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengurangan konsumsi BBM, tetapi juga dapat mendorong perkembangan industri kendaraan listrik nasional.
Menurut Fabby, elektrifikasi transportasi berpeluang menekan kebutuhan impor energi sekaligus membantu memperbaiki kualitas udara, terutama di wilayah perkotaan.
Namun, ia mengingatkan bahwa pengurangan subsidi BBM tidak bisa dilakukan hanya dengan mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Pemerintah perlu memastikan kelompok masyarakat yang paling terdampak tetap mendapatkan perlindungan.
"Pengurangan subsidi BBM harus dibarengi dengan perlindungan terhadap kelompok rentan, peningkatan kualitas transportasi publik, serta pembangunan infrastruktur pengisian daya yang merata," ujar Fabby dalam keterangannya, dikutip Selasa (18/8/2026).
Fabby menilai, ketersediaan infrastruktur pengisian daya menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik.
Tanpa jaringan pengisian yang memadai dan tersebar secara merata, masyarakat akan kesulitan beralih dari kendaraan berbahan bakar minyak.
Selain infrastruktur, IESR juga menyoroti sumber listrik yang digunakan untuk mengisi baterai kendaraan listrik.
Menurut Fabby, manfaat elektrifikasi terhadap penurunan emisi akan lebih optimal apabila sistem kelistrikan nasional semakin banyak menggunakan energi bersih. Jika pembangkitan listrik masih sangat bergantung pada sumber energi beremisi tinggi, manfaat lingkungan dari perpindahan kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik menjadi tidak maksimal.
Di sisi lain, IESR mencermati strategi energi pemerintah yang masih memasukkan peningkatan produksi minyak dan gas bumi atau lifting migas dalam target nasional.
Pemerintah sendiri berencana memberikan insentif untuk mendorong produksi motor listrik domestik sebagai bagian dari upaya mempercepat elektrifikasi transportasi.
Baca Juga: Airlangga Beri Sinyal Insentif Kendaraan Listrik Bakal Khusus Molis dan Mobil Nasional
Baca Juga: Pertamina Jamin Penyaluran BBM dan LPG Tetap Berjalan Pasca Gempa Flores
Dalam pidato penyampaian RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan, Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan rencana pengurangan subsidi BBM secara bertahap.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menata konsumsi energi sekaligus mendorong penggunaan kendaraan listrik produksi dalam negeri.
Dengan demikian, menurut IESR, transisi dari kendaraan berbahan bakar minyak menuju kendaraan listrik perlu dilakukan secara menyeluruh. Bukan hanya soal menyediakan kendaraan yang lebih murah, tetapi juga memastikan transportasi publik, infrastruktur pengisian daya, perlindungan masyarakat, dan sumber listrik bersih berkembang secara bersamaan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dwi Aditya Putra