Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Dedi Mulyadi Terancam Diasingkan Gerindra? Duet dengan Anies Baswedan Mengemuka

        Dedi Mulyadi Terancam Diasingkan Gerindra? Duet dengan Anies Baswedan Mengemuka Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Peta persaingan menuju Pilpres 2029 mulai menghadirkan sejumlah skenario menarik. Salah satunya menyangkut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang elektabilitasnya dalam survei tercatat berada jauh di atas Presiden Prabowo Subianto.

        Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi persoalan politik tersendiri bagi Partai Gerindra apabila tren elektabilitas Dedi terus bertahan hingga mendekati Pilpres 2029. Pengamat politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, bahkan membuka kemungkinan Dedi tidak mendapatkan ruang strategis di internal partai.

        Analisis tersebut mengacu pada hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis akhir Juli 2026. Dalam simulasi semi terbuka dengan 20 nama calon presiden, Dedi berada di posisi teratas dengan elektabilitas 35 persen.

        Baca Juga: Gibran Masuk Bursa Capres 2029, Ijazah SMA Mendadak Dipertanyakan, Ada yang Iri?

        Sementara itu, Prabowo berada di posisi kedua dengan angka 14,5 persen. Artinya, terdapat selisih hingga 20,5 poin persentase antara keduanya. Keunggulan Dedi juga terlihat ketika survei menggunakan simulasi head to head. Dedi memperoleh 59 persen dukungan, sedangkan Prabowo berada di angka 28,3 persen.

        Menurut Jamiluddin, angka tersebut berpotensi membuat sebagian elite Gerindra merasa tidak nyaman, khususnya apabila kekuatan politik dan popularitas Dedi terus meningkat. Ia menilai, ada kemungkinan kader dengan elektabilitas besar justru tidak diberikan posisi strategis di partai.

        "Kader seperti itu bisa saja akan diasingkan di internal Gerindra. Dedi bisa saja tidak diberi peran strategis di Gerindra," kata Jamiluddin, dikutip Selasa (18/8/2026).

        Jika benar-benar menghadapi pembatasan ruang politik, Jamiluddin menilai Dedi memiliki modal elektabilitas yang cukup untuk mencari jalur politik lain. Ia memperkirakan Dedi tidak akan tinggal diam apabila merasa kepentingan politiknya mulai dibatasi.

        Baca Juga: Megawati: Saya Loh yang Bikin BPJS untuk Rakyat Jelata, tapi Sekarang Mulai Diotak-atik

        "Kalau hal itu terjadi, bisa saja Dedi akan melakukan perlawanan. Dedi bisa saja berlabuh ke partai lain untuk mewujudkan ambisi politik," ujarnya.

        Menurut Jamiluddin, rekam jejak Dedi yang pernah berpindah kendaraan politik membuat kemungkinan tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Jika tidak memperoleh ruang yang cukup di Gerindra, Dedi bisa saja mencari dukungan dari partai lain atau bahkan membangun poros politik baru.

        Jamiluddin kemudian memunculkan nama Anies Baswedan sebagai salah satu figur yang berpotensi menjadi pasangan politik Dedi. Duet keduanya dinilai bisa menjadi kekuatan baru apabila kondisi politik menjelang Pilpres 2029 memungkinkan.

        "Salah satunya bisa saja Dedi bergabung dengan Anies Baswedan untuk maju pada Pilpres 2029. Dua sosok ini akan sangat kuat bila bersatu. Setidaknya dua sosok ini dapat membius kalangan religius dan nasionalis untuk mendukung mereka," ucap Jamiluddin.

        Meski begitu, skenario Dedi-Anies tersebut masih sebatas analisis politik. Hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai koalisi maupun pasangan calon yang akan bertarung dalam Pilpres 2029.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: