- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Mas Bahlil Sebut Harga Minyak Dunia Sulit Ditebak: Saya Umpamakan Seperti...
Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Pergerakan harga minyak mentah dunia yang sulit ditebak membuat pemerintah harus terus memasang strategi untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bahkan menggambarkan kondisi tersebut layaknya seseorang yang tengah terserang penyakit malaria karena harganya bisa berubah drastis dalam waktu singkat.
"Harga dari minyak dunia saya umpamakan seperti orang sakit malaria. Pagi bisa turun, malam bisa naik. Tiga hari bisa turun, tujuh hari bisa naik," kata Bahlil dalam acara Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta International Convention Center, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Mahfud MD: Zaman Orde Baru yang Katanya Penuh KKN Jauh Lebih Bagus Dibandingkan Sekarang
Menurut Bahlil, ketidakstabilan harga minyak dunia saat ini tidak terlepas dari berbagai kesepakatan serta isu mengenai penguasaan akses di kawasan Selat Hormuz. Situasi geopolitik yang masih penuh ketidakpastian membuat pergerakan harga komoditas energi tersebut semakin sulit diproyeksikan.
Ia menilai tidak ada pihak yang benar-benar bisa memastikan kapan ketegangan geopolitik global akan berakhir. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus membuat negara-negara harus memperkuat perlindungan terhadap kepentingan nasional masing-masing.
"Bayangkan kalau hampir seluruh dunia menggantungkan hidupnya di sektor energi gara-gara Selat Hormuz. Di mana letak kesejahteraan dan kemerdekaan sebuah bangsa termasuk Indonesia?" ujar Bahlil.
Baca Juga: Indonesia Sudah Maju? Mahfud MD: Anda Dusta Jika Bilang Indonesia Baik-baik Saja
Ketidakpastian tersebut kemudian menjadi salah satu alasan pemerintah mempercepat pencarian sumber energi alternatif. Bahlil mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan jajarannya untuk mencari berbagai pilihan agar kebutuhan energi Indonesia tetap terjamin di tengah gejolak global.
Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah adalah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025 hingga 2035. Dalam rencana tersebut, pemerintah mendorong peningkatan penggunaan energi baru terbarukan sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional.
Bahlil menyebut porsi bauran energi baru terbarukan dalam RUPTL 2025-2035 ditargetkan mendominasi hingga 70-75 persen. Sumbernya mencakup gas, panel surya, panas bumi atau geothermal, hingga udara.
Pemerintah juga menyiapkan target besar untuk pengembangan energi surya. Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt ditargetkan mulai dikerjakan dalam beberapa tahun ke depan.
“Tahun ini kita akan mulai masuk tahap pertama dengan pembangunan 30 gigawatt,” imbuh Bahlil.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dinamika harga energi global yang pergerakannya sangat sulit diprediksi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: