Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Saham Alibaba Anjlok 10% Usai Tebar Saham US$10,2 Miliar untuk Danai AI

        Saham Alibaba Anjlok 10% Usai Tebar Saham US$10,2 Miliar untuk Danai AI Kredit Foto: Alibaba Cloud
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Saham Alibaba di Bursa Hong Kong merosot hingga 10% pada awal perdagangan Senin (24/8/2026). Penurunan terjadi setelah raksasa teknologi China tersebut menyelesaikan penempatan saham senilai US$10,2 miliar untuk membiayai pengembangan kecerdasan artifisial (AI).

        Melansir Reuters, saham Alibaba sempat jatuh 10% ke level HK$110,10. Investor menilai aksi korporasi tersebut dapat menekan kepemilikan pemegang saham sekaligus mempertanyakan seberapa cepat investasi besar-besaran Alibaba di AI akan menghasilkan keuntungan.

        Alibaba pada Minggu (23/8) mengumumkan penempatan 710 juta saham baru dengan total nilai HK$80 miliar atau sekitar US$10,21 miliar. Saham tersebut dihargai HK$112,70 per lembar, atau dengan diskon 8,4% dibandingkan harga penutupan Jumat (21/8).

        Dana hasil aksi korporasi tersebut akan digunakan sepenuhnya untuk memperkuat pengembangan AI Alibaba, termasuk pembangunan infrastruktur, pengembangan chip, serta kemampuan pengembangan dan penerapan model AI.

        Langkah ini menjadi bagian dari strategi Alibaba untuk meningkatkan investasi AI di tengah persaingan teknologi yang semakin ketat, baik di China maupun antara China dan Amerika Serikat.

        Penurunan saham Alibaba mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak jangka pendek dari ekspansi AI perusahaan.

        Charles Wang, Chairman Shenzhen Dragon Pacific Capital Management, menilai penempatan saham tersebut menjadi sentimen negatif dalam jangka pendek karena berpotensi mengurangi porsi kepemilikan investor yang sudah ada.

        Selain itu, investor cenderung berhati-hati terhadap belanja modal dalam jumlah besar karena manfaat finansial dari investasi tersebut membutuhkan waktu untuk terealisasi.

        Kekhawatiran tersebut muncul setelah Alibaba melaporkan kinerja keuangan kuartalannya. Laba bersih perusahaan turun 75% secara tahunan, terutama akibat meningkatnya pengeluaran untuk infrastruktur AI. Di sisi lain, pendapatan Alibaba pada periode tersebut tetap tumbuh 9%.

        Alibaba juga telah menghabiskan hampir separuh dari rencana belanja modal tiga tahunannya. Perusahaan sebelumnya berkomitmen mengalokasikan sekitar 380 miliar yuan atau US$56,54 miliar untuk pengembangan infrastruktur AI selama tiga tahun.

        Meski demikian, Alibaba mempercepat perkiraan waktu balik modal investasi AI menjadi sekitar 2,5 tahun dari sebelumnya tiga tahun. Perusahaan menyebut lonjakan permintaan terhadap layanan AI menjadi salah satu faktor yang mendukung optimisme tersebut.

        Penempatan saham senilai US$10,2 miliar tersebut menjadi primary follow-on offering terbesar yang pernah dilakukan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Hong Kong.

        Baca Juga: Alibaba Panen Cuan Sampai US$40 Miliar, AI Jadi Mesin Uang Baru!

        Baca Juga: Tim Cook Beberkan Biang Kerok Apple Naikkan Harga Mac dan iPad

        Baca Juga: Ikuti Zuckerberg, Pendiri Google Rela Habiskan Rp1,78 triliun demi Gagalkan Pajak Miliarder

        Transaksi itu juga menjadi penawaran saham lanjutan terbesar ketiga secara global sepanjang 2026, setelah aksi serupa yang dilakukan Alphabet dan Intel.

        Alibaba terus memperluas infrastruktur AI sebagai bagian dari strategi tersebut. Pekan lalu, Alibaba Cloud membuka pusat data ketiganya di Korea Selatan. Ekspansi itu membuat jaringan Alibaba Cloud mencapai 104 availability zones di 30 wilayah.

        Dengan tambahan pendanaan tersebut, Alibaba kini menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa investasi AI yang semakin besar dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan pendapatan dan keuntungan yang sepadan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: