Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026). Tekanan indeks terjadi seiring koreksi sejumlah saham berkapitalisasi besar, seperti BYAN, TPIA, dan beberapa saham sektor perbankan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 0,37% atau 24,02 poin ke level 6.501,66. Pada awal perdagangan, indeks dibuka di posisi 6.544 dan sempat menguat hingga menyentuh level tertinggi 6.551. Namun, IHSG kemudian berbalik arah dan berakhir di zona merah.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 259 saham menguat, 367 saham melemah, dan 166 saham bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan juga cukup ramai. Nilai transaksi saham di BEI mencapai Rp14,29 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 59,12 miliar saham. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI pada akhir perdagangan tercatat sebesar Rp11.416,17 triliun.
IHSG Masih Ada Peluang Menguat
Melansir riset hariannya, Phintraco Sekuritas menilai peluang kenaikan IHSG masih terbuka selama mampu bertahan di atas level 6.500 yang menjadi titik pivot. Kondisi likuiditas domestik yang tetap kuat turut menjadi penopang pergerakan indeks.
Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) yang mencapai 8,3% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp10.371,1 triliun pada Juli 2026. Di tengah perlambatan pertumbuhan M2 dari 8,7% YoY pada Juni, penyaluran kredit justru meningkat hingga 13% YoY.
Perkembangan tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar saham domestik. Meski begitu, investor tetap perlu memperhatikan pergerakan rupiah dan berbagai sentimen dari pasar global.
“IHSG masih bertahan di atas level pivot 6.500, sehingga peluang penguatan tetap terbuka," tulis riset Phintraco Sekuritas.
Baca Juga: IHSG Kembali Menguat, Naik 0,28% ke Level 6.544 di Awal Perdagangan
Baca Juga: Karhutla Kembali Disorot, 3 Saham Emiten Sawit Tertekan
Baca Juga: Saham Bank Mandiri Alami Tekanan di Sesi 1 Perdagangan BEI
MNC Sekuritas melihat beberapa faktor masih akan menjadi penggerak IHSG pada awal pekan.
"Pelaku pasar terutama menunggu hasil Jackson Hole Symposium yang dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat," tulis riset dari MNC Sekuritas.
Selain itu, pergerakan harga komoditas, terutama emas dan minyak mentah, juga patut dicermati karena masih memiliki peluang untuk menguat.
"Rencana rebalancing indeks MSCI dan FTSE yang efektif pada September 2026 turut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi arus dana dan pergerakan sejumlah saham di pasar Indonesia," ungkap MNC Sekuritas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: