Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jokowi Datang, Gibran Menyusul! Curiga Ada Agenda Politik Keluarga

        Jokowi Datang, Gibran Menyusul! Curiga Ada Agenda Politik Keluarga Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pegiat media sosial Arif Wicaksono mempertanyakan pola kunjungan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke sejumlah daerah. Ia menduga kemunculan keduanya di wilayah yang sama dalam waktu berdekatan tidak sepenuhnya terjadi secara kebetulan dan berpotensi berkaitan dengan kepentingan politik keluarga.

        Arif menyoroti sejumlah kunjungan Jokowi yang kemudian disusul Gibran di daerah yang sama. Menurutnya, pola tersebut layak dipertanyakan karena terjadi berulang, meski Jokowi sebelumnya menyatakan kunjungannya ke daerah bukan ditujukan untuk kepentingan elektoral Gibran.

        "Jokowi bilang kunjungannya ke daerah 'bukan untuk elektoral Gibran'. Polanya jelas," ujar Arif, dikutip Selasa (25/8/2026).

        Salah satu contoh yang disoroti Arif adalah kunjungan Jokowi ke Lampung pada Juni 2026. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi mengenakan atribut yang dikaitkan dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), menghadiri Rakorda PSI, serta melakukan sejumlah kegiatan bersama masyarakat.

        "Pakai kemeja-topi PSI, hadiri Rakorda PSI, bilang lantang: 'yang lebih penting, juga untuk PSI'. Terima gelar adat, blusukan, foto, pulang," kata Arif.

        Menurut Arif, beberapa pekan setelah kunjungan tersebut, Gibran kemudian mendatangi Lampung Timur. Ia mempertanyakan apakah rangkaian kunjungan tersebut hanya kebetulan atau merupakan bagian dari pola yang sengaja dibangun.

        "Beberapa minggu kemudian Gibran 'kebetulan' menyusul ke Lampung Timur," tuturnya.

        Arif kemudian membandingkan pola tersebut dengan kunjungan Jokowi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Agustus 2026. Jokowi disebut kembali melakukan kegiatan bernuansa silaturahmi dan mendapatkan gelar adat dalam kunjungannya ke wilayah tersebut.

        "Gelar adat lagi. Silaturahmi lagi. Framing 'masih orang kampung' lagi. Semua diklaim 'murni undangan'. Semua 'bukan untuk elektoral'," ujar Arif.

        Tak lama setelah kunjungan Jokowi, Gibran juga datang ke NTT. Kunjungan Wakil Presiden tersebut berlangsung dalam konteks penanganan masyarakat yang terdampak gempa bumi di wilayah tersebut.

        "Tidak lama Gibran juga turun ke NTT, termasuk pascagempa," kata Arif.

        Pola tersebut kemudian membuat Arif mempertanyakan alasan daerah yang dikunjungi Jokowi dan Gibran kerap beririsan. Ia juga menyoroti jarak waktu antara kunjungan Jokowi dan kedatangan Gibran di daerah yang sama.

        "Kalau bukan untuk itu, kenapa selalu daerah yang sama? Kenapa selalu timing yang sama? Kenapa selalu anak yang sama yang menyusul?" ujarnya.

        Menurut Arif, Jokowi seharusnya terbuka jika memang memiliki agenda politik untuk membangun kekuatan politik keluarganya. Ia menilai keterbukaan akan lebih baik daripada terus membantah adanya kepentingan elektoral dalam kunjungan tersebut.

        "Sudah waktunya berhenti pura-pura. Bilang saja: 'Saya sedang bangun mesin politik untuk anak-anak saya.' Lebih baik daripada membantah," tandas Arif.

        Namun, pernyataan tersebut merupakan penilaian dan dugaan Arif berdasarkan pola kunjungan yang ia soroti. Tidak ada keterangan dalam informasi tersebut yang membuktikan bahwa kunjungan Jokowi dan Gibran ke daerah-daerah yang sama merupakan bagian dari strategi politik keluarga.

        Kunjungan Gibran ke NTT sendiri diketahui berlangsung dalam konteks tugas kenegaraan, termasuk memastikan penanganan dan pemulihan pascabencana gempa berjalan di lapangan. Karena itu, dugaan mengenai adanya agenda politik di balik pola kunjungan tersebut masih berada pada ranah opini dan interpretasi Arif.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: