Kredit Foto: Pertamina Hulu Rokan
PT Pertamina (Persero) mengakui produksi minyak di Blok Rokan, Riau, sangat bergantung pada pasokan listrik. Kini perseroan mengebut pengoperasian kembali pembangkit di Duri yang tengah diperbaiki PLN.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menyebut perbaikan mekanikal pembangkit tersebut sudah tuntas. Tinggal menunggu start-up.
"Sampai saat ini alhamdulillah proses perbaikan mekanikal sudah selesai, mudah-mudahan kita bisa segera start up," kata Oki dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).
Pembangkit yang dimaksud adalah PLTG North Duri Cogeneration yang dioperasikan PT PLN Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN), anak usaha PLN yang memasok listrik dan uap untuk Wilayah Kerja Rokan.
Persoalannya, klaster heavy oil (minyak berat) Rokan diproduksi dengan metode thermal oil recovery. Metode ini sangat menuntut pasokan listrik.
Oki menyatakan Pertamina ikut turun membantu PLN mengoperasionalkan kembali pembangkit itu, di bawah arahan Ditjen Migas dan SKK Migas. Perseroan juga sudah berkomitmen dengan PLN terkait konverter.
Dia sekaligus meminta dukungan DPR agar prosesnya bisa dipercepat.
Pertamina pun menyiapkan jaring pengaman. Bila kapasitas listrik masih kurang, tambahan pembangkitan bisa disediakan lewat sub-holding Power & New Renewable Energy.
Blok Rokan bukan blok sembarangan. Oki menyebut Pertamina konsisten menyumbang 65% atau lebih produksi minyak mentah Indonesia sejak 2021 dengan Blok Rokan sebagai tulang punggungnya.
"Kita full support untuk meningkatkan listrik karena listrik adalah kunci dari produksi heavy oil di Rokan, kuncinya di daerah Duri," ujarnya.
Dampak ke produksi ternyata tidak kecil. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, memaparkan Pertamina Hulu Rokan tahun lalu memproduksi 151 ribu barel per hari, sementara realisasi tahun ini baru 133 ribu barel per hari. Artinya produksi melorot 18 ribu barel per hari.
Baca Juga: Produksi Minyak RI Baru 578 Ribu Bph, Rokan-Cepu Jadi Beban
Baca Juga: Di Hadapan Presiden RI, Pertamina NRE Pamerkan PLTS Pulau Sembur Dukung Program PLTS 100 GWp
Djoko menyebut terkendalanya pembangkit MCTN dan kebocoran pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) menjadi penyebab melorotnya produksi tersebut. Pipa ruas Grissik–Duri itu memasok gas ke pembangkit dan putus dua kali pada Januari, dengan kehilangan gas sekitar 200 MMSCFD.
"Realisasi baru 133 ribu, tadi karena kasus pipa TGI dan juga MCTN yang sampai hari ini belum selesai dilakukan perbaikan," tutup Djoko.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: