Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Puji Prabowo Buru-buru Copot Purbaya, Mahfud MD: Suahasil Menurut Saya...

Puji Prabowo Buru-buru Copot Purbaya, Mahfud MD: Suahasil Menurut Saya... Kredit Foto: Kominfo
Warta Ekonomi, Jakarta -

Keputusan Presiden Prabowo Subianto mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan mendapat apresiasi dari Mahfud MD. Mantan Menko Polhukam itu menilai pergantian tersebut menunjukkan respons pemerintah terhadap keluhan publik mengenai kinerja Kementerian Keuangan.

Purbaya resmi dicopot pada Senin (14/9/2026), setelah menjabat sebagai Menteri Keuangan sejak 8 September 2025. Posisinya kemudian digantikan Suahasil Nazara, yang sebelumnya menduduki jabatan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu).

Bagi Mahfud, pilihan Prabowo menempatkan Suahasil sebagai pengganti Purbaya merupakan langkah yang tepat. Ia menggambarkan Suahasil sebagai birokrat profesional yang lebih memilih fokus bekerja ketimbang banyak berbicara di ruang publik.

Baca Juga: Sempat 'Ribut' dengan Purbaya, Pramono Respon Usai Ada Reshuffle: Tentunya Saya...

"Kita apresiasi Presiden tanggap dan sensitif terhadap keluhan masyarakat mengenai kinerja Kementerian Keuangan. Pilihannya kepada Pak Suahasil menurut saya oke, seorang birokrat profesional, enggak banyak bicara, dan lebih fokus bekerja," ucap Mahfud, dikutip dari tayangan YouTube pribadinya, Selasa (15/9/2026). 

Penilaian tersebut disampaikan Mahfud setelah melihat sejumlah persoalan selama Purbaya menjabat. Menurutnya, terdapat dua kelemahan mendasar yang menjadi sorotan, yakni komunikasi publik serta substansi dan pelaksanaan kebijakan.

"Menyangkut Purbaya, memang dulu kita terlalu besar harapannya. Kelemahan Purbaya yang paling mendasar tuh dua sebenarnya, satu, komunikasi publiknya buruk, kemudian substansi urusannya juga tidak beres," kata Mahfud. 

Baca Juga: Mahfud MD: Waktu Zaman Sri Mulyani dan Purbaya Tuh Sama, Rakyat Dikejar

Mahfud menilai gaya komunikasi Purbaya terlalu percaya diri dalam membahas persoalan ekonomi yang sebenarnya kompleks. Ia mencontohkan pernyataan Purbaya mengenai upaya menstabilkan nilai tukar rupiah.

"Sebelum jadi menteri bilang gampang, tapi dolarnya naik terus, rupiah melemah terus. Yang begitu itu saya kira harus hati-hati kalau menjadi pejabat," lanjut Mahfud.

Menurut Mahfud, persoalan komunikasi tersebut tidak berhenti pada pernyataan mengenai rupiah. Purbaya juga dinilai kerap terlibat perdebatan terbuka melalui media massa.

Salah satunya adalah silang pendapat dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung terkait dana bagi hasil dan rencana penerbitan obligasi daerah.

"Terakhir kayaknya debat kusir dengan Gubernur DKI, saling menanggapi di media soal dana bagi hasil. Masa komunikasi publik dilakukan dengan cara itu? Terlalu percaya diri berlebihan, menganggap sesuatu itu mudah ditangani seperti menstabilkan rupiah," ujarnya.

Mahfud juga menyoroti kebijakan dan komitmen Purbaya yang dinilai tidak seluruhnya terealisasi. Persoalan pendanaan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) menjadi salah satu contoh yang ia soroti, ditambah pembenahan struktural di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang dinilai belum tuntas setelah muncul rentetan kasus hukum.

Selain itu, Mahfud menilai pemangkasan dana transfer ke daerah (TKD) turut menekan kemampuan fiskal sejumlah pemerintah daerah. Kondisi tersebut berdampak pada layanan vital masyarakat, termasuk rumah sakit daerah.

"Di daerah-daerah sekarang ini, karena pemangkasan dana alokasi, banyak daerah yang kesulitan bahkan lay-off tenaga kerja. Malah Purbaya mengumumkan 490 daerah hampir nggak bisa bayar gaji. Mestinya dia segera mencari jalan keluar, bukan malah mengumumkan ke publik yang bikin resah," jelasnya.

Mahfud menilai berbagai evaluasi tersebut menjadi dasar penting dalam melihat keputusan pergantian Menteri Keuangan. Menurutnya, Prabowo menunjukkan sikap tanggap terhadap suara masyarakat dengan mengganti Purbaya dan memilih Suahasil sebagai penerusnya.

Bagi Mahfud, karakter Suahasil yang lebih banyak bekerja dan tidak banyak bicara menjadi modal penting untuk menjalankan tugas sebagai bendahara negara.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri