Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.744 di Tengah Aksi Demonstrasi Hari Ini

        Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.744 di Tengah Aksi Demonstrasi Hari Ini Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (27/6/2026). Mata uang Garuda terparkir di Rp17.744 atau melemah 19 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.725 per USD.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan ini dipicu aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI hari ini meskipun berlangsung secara tertib dan damai tanpa kerusuhan, dengan sejumlah anggota DPR menemui langsung massa aksi untuk mendengarkan aspirasi.

        "Massa dari berbagai kelompok seperti Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dan aliansi lainnya mendesak DPR RI agar segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset dan menerapkan hukuman mati bagi koruptor," kata Ibrahim kepada wartawan.

        Pimpinan dan sejumlah anggota DPR (seperti Andre Rosiade dan Rieke Diah Pitaloka) mendatangi langsung para pendemo di atas mobil komando untuk menerima dan menampung aspirasi para pendemo. Di saat bersamaan, DPR RI tetap menjalankan agenda sidang paripurna yang salah satunya mencakup laporan Komisi III mengenai perkembangan pembahasan RUU Perampasan Aset. 

        Setelah aspirasi diterima anggota dewan dan anggota dewan berjanji terus mengawal sampai tanggal 15 Desember 2026 batas akhir pengesahan RUU Perampasan Aset maka aksi unjuk rasa berakhir dengan tertib, dan massa membubarkan diri secara kondusif di bawah pengamanan aparat kepolisian.

        Di sisi lain, pelemahan rupiah dipicu juga oleh tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terus mengalami penurunan sepanjang 2026.

        Berdasarkan survei Tempo Data Science yang digelar pada 31 Juli hingga 11 Agustus 2026, tingkat kepuasan terhadap kinerja Prabowo-Gibran hanya mencapai 37 persen pada Agustus 2026.  Angka tersebut turun tajam dibandingkan hasil survei pada Desember 2025 yang mencapai 75 persen dan Maret 2026 sebesar 58 persen.

        "Penurunan kepuasan publik tersebut berkaitan dengan persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Berdasarkan hasil survei, harga kebutuhan pokok menjadi alasan terbesar masyarakat tidak puas terhadap kinerja Prabowo-Gibran," pungkas dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: