4 Orang Hilang Ditemukan Tewas dalam 3 Hari, Keamanan Pariwisata Jeju Jadi Sorotan
Kredit Foto: Reuters/Kim Hong-ji
Rangkaian penemuan empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang di Pulau Jeju, Korea Selatan, mulai memunculkan kekhawatiran terhadap sektor pariwisata. Keempatnya ditemukan meninggal secara berurutan dalam rentang 22 hingga 24 Agustus 2026.
Polisi memastikan keempat kasus tersebut tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Namun, jarak waktu penemuan yang berdekatan membuat persoalan keamanan kembali menjadi perhatian masyarakat.
Kekhawatiran publik juga muncul setelah adanya dugaan kelalaian seorang polisi dalam menangani sejumlah laporan orang hilang. Situasi ini menjadi sensitif bagi Jeju karena pariwisata merupakan salah satu penopang utama perekonomian pulau tersebut.
Jeju dikenal sebagai destinasi wisata dengan pantai, lanskap vulkanik, jalur pendakian, dan berbagai kawasan alam. Pulau ini juga menjadi salah satu tujuan wisata utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pada 2025, Jeju tercatat menerima sekitar 13,86 juta wisatawan. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,24 juta orang merupakan wisatawan internasional.
Besarnya jumlah kunjungan membuat faktor keamanan menjadi bagian penting dalam industri pariwisata Jeju. Dampaknya dapat dirasakan berbagai sektor seperti hotel, penginapan, restoran, transportasi, dan usaha yang bergantung pada kedatangan wisatawan.
Sejumlah pengelola akomodasi mulai menerima pertanyaan dari calon wisatawan mengenai kondisi keamanan di Jeju. Ada pula wisatawan yang disebut membatalkan perjalanan setelah pemberitaan mengenai rangkaian kasus tersebut mencuat.
Namun, belum ada bukti yang cukup untuk memastikan pembatalan perjalanan tersebut disebabkan oleh kasus orang hilang. Dampak terhadap jumlah kunjungan wisatawan karena itu masih perlu diamati dalam beberapa pekan hingga bulan mendatang.
Persoalan keamanan juga muncul ketika pariwisata Jeju tengah menghadapi tekanan dari sisi kunjungan domestik. Pada Juli 2026, jumlah wisatawan domestik tercatat sekitar 963.401 orang.
Angka tersebut turun 12,4 persen dibandingkan Juli tahun sebelumnya. Penurunan itu tidak dapat langsung dikaitkan dengan rangkaian kasus orang hilang yang terjadi pada Agustus.
Perubahan pola perjalanan masyarakat Korea Selatan menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi jumlah wisatawan domestik. Sebagian wisatawan kini lebih memilih bepergian ke luar negeri, terutama Jepang.
Kondisi tersebut membuat Jeju harus menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan destinasi luar negeri. Munculnya isu keamanan kini menjadi tantangan tambahan bagi industri pariwisata pulau tersebut.
Kekhawatiran publik bermula dari penemuan empat orang yang sebelumnya dinyatakan hilang. Polisi menemukan jenazah mereka dalam tiga hari secara berurutan.
Pada 22 Agustus, jenazah seorang pria berusia 60-an ditemukan. Sehari kemudian, seorang pria berusia 70-an yang sebelumnya dilaporkan hilang juga ditemukan meninggal.
Dua jenazah lainnya ditemukan pada 24 Agustus. Salah satunya adalah Jang Mi Ran, perempuan berusia 37 tahun yang telah dilaporkan hilang sejak 15 Mei.
Jenazah Jang ditemukan di area perkebunan Hallim-eup, Kota Jeju. Lokasi tersebut berada sekitar 400 meter dari tempat tinggalnya.
Jang ditemukan 104 hari setelah dinyatakan hilang. Polisi kemudian mencocokkan pakaian, sandal, dan telepon seluler yang ditemukan di lokasi dengan barang milik Jang.
Identitas Jang selanjutnya dikonfirmasi melalui pemeriksaan forensik. Polisi menduga perempuan tersebut meninggal akibat bunuh diri berdasarkan pemeriksaan awal.
Sejauh ini polisi tidak menemukan tanda-tanda yang mengarah pada pembunuhan. Aparat juga menegaskan keempat kasus kematian tersebut tidak saling berkaitan.
Baca Juga: Selain Diprotes Masalah Layanan di Indonesia, Hyundai juga Didemo Pekerja di Korea Selatan karena AI
Temuan tersebut berarti belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa Jeju menghadapi ancaman keamanan terorganisasi. Tidak terdapat pula indikasi adanya pola kriminal yang menghubungkan keempat kasus tersebut.
Meski demikian, pemberitaan mengenai empat orang hilang yang ditemukan meninggal dalam waktu berdekatan tetap berpotensi memengaruhi persepsi calon wisatawan. Bagi Jeju, menjaga kepercayaan wisatawan menjadi penting agar isu keamanan tidak berkembang menjadi anggapan bahwa pulau tersebut merupakan destinasi yang tidak aman.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: