Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Jejak Kartu Kredit Bongkar Skandal ‘Suap Seksual’ Wasit Asing di Korea Selatan

Jejak Kartu Kredit Bongkar Skandal ‘Suap Seksual’ Wasit Asing di Korea Selatan Kredit Foto: Pexels
Warta Ekonomi, Jakarta -

Skandal lama sepak bola Korea Selatan kembali mencuat setelah jejak penggunaan kartu kredit resmi federasi dikaitkan dengan dugaan pemberian layanan seksual kepada sejumlah wasit asing. Praktik yang disebut terjadi pada 2011 dan 2012 itu baru kembali menjadi sorotan setelah laporan investigasi dan pemberitaan media Korea Selatan.

Laporan JTBC mengungkap dugaan tersebut berkaitan dengan sedikitnya tujuh pertandingan internasional Timnas Korea Selatan. Pertandingan itu mencakup laga kualifikasi Piala Dunia, kualifikasi Olimpiade, hingga pertandingan persahabatan.

Kasus tersebut sebelumnya telah masuk dalam investigasi Kementerian Olahraga Korea Selatan pada 2016. Dalam penyelidikan itu, Federasi Sepak Bola Korea (KFA) disebut memberikan hiburan yang tidak pantas kepada sejumlah perangkat pertandingan asing.

Masyarakat Korea Selatan kemudian menyebut praktik tersebut sebagai "suap seksual". Sekitar 10 wasit atau perangkat pertandingan internasional disebut diduga terlibat dalam rangkaian kasus tersebut.

Salah satu jejak yang menjadi perhatian adalah transaksi menggunakan kartu kredit resmi KFA. Pada 29 Februari 2012, setelah Korea Selatan menghadapi Kuwait dalam kualifikasi Piala Dunia 2014 di Seoul, kartu kredit resmi federasi digunakan untuk membayar 500 ribu won atau sekitar Rp6,2 juta di sebuah tempat pijat di kawasan Gangnam.

Transaksi tersebut tercatat dilakukan pada dini hari setelah pertandingan. Setelah dilakukan verifikasi silang terhadap kesaksian staf komite wasit, catatan transaksi kartu kredit, serta dokumen yang disediakan KFA, pengeluaran tersebut disimpulkan berkaitan dengan pemberian hiburan seksual kepada dua perangkat pertandingan.

Pertandingan Korea Selatan kontra Kuwait saat itu dipimpin wasit asal Jepang, Yuichi Nishimura. Nama Nishimura pun muncul dalam catatan kasus yang kembali menjadi sorotan tersebut.

Jejak transaksi lain juga ditemukan setelah pertandingan Korea Selatan melawan Oman dalam kualifikasi Olimpiade London 2012 di Changwon pada 22 September 2011. Sekitar dua setengah jam setelah pertandingan berakhir, seorang pegawai KFA membayar 760 ribu won di sebuah tempat pijat setempat.

Baca Juga: Kericuhan Danlanud Cup 2026: Wasit Ridho Bekti Dikeroyok, Pertandingan Andalas FC vs Gama FC Terhenti

Wasit utama dalam pertandingan tersebut adalah Ravshan Irmatov dari Uzbekistan. Selain kasus tersebut, kartu kredit KFA juga tercatat digunakan untuk membayar 198 ribu won di sebuah tempat pijat bergaya Tiongkok di Gangnam setelah laga kualifikasi Olimpiade antara Korea Selatan dan Qatar pada 14 Maret 2012.

Laporan Yonhap yang mengutip sumber internal KFA menyebut federasi menyediakan layanan seksual bagi lebih dari 10 wasit internasional sepanjang 2011-2012. Seluruh dugaan kejadian itu berlangsung ketika Cho Chung-yun menjabat sebagai Presiden KFA.

Rangkaian transaksi tersebut menjadi bagian penting dalam pengungkapan kasus karena menunjukkan adanya penggunaan fasilitas dan dana resmi federasi. Nilai pengeluaran yang tercatat memang berbeda-beda, tetapi seluruhnya disebut berkaitan dengan biaya hiburan bagi perangkat pertandingan.

KFA kemudian memberikan tanggapan atas pemberitaan tersebut. Federasi menyatakan kejadian yang dimaksud telah berlangsung sekitar 15 tahun lalu sehingga dokumen internal mengenai kasus tersebut tidak lagi lengkap.

KFA menjelaskan masa penyimpanan dokumen internal mereka hanya lima tahun. Karena itu, federasi mengaku tidak dapat memastikan seluruh aspek dari dugaan kejadian tersebut secara pasti.

Meski demikian, KFA menyatakan sistem pengelolaan internal telah mengalami perubahan signifikan. Penggunaan kartu kredit perusahaan dan pengeluaran untuk hiburan kini disebut berada di bawah kontrol yang lebih ketat untuk memenuhi standar tata kelola serta ekspektasi publik.

Skandal tersebut kembali menjadi perhatian karena dugaan pemberian layanan seksual bukan hanya menyangkut perilaku individu, tetapi juga penggunaan fasilitas resmi federasi. Jejak transaksi kartu kredit menjadi salah satu bagian yang membantu mengungkap bagaimana pengeluaran tersebut tercatat dalam aktivitas KFA.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama