KJRI New York dan Pola Raya Mau Buka Jalan Arsitek hingga Proyek Indonesia Masuk Pasar Global Terbuka
Kredit Foto: Istimewa
Jalan bagi arsitek, developer, perusahaan properti, hingga pelaku ekonomi kreatif Indonesia untuk memperkenalkan karya dan proyeknya ke pasar global mulai dibuka lebih lebar. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di New York bersama PT Pola Raya Studio menandatangani Letter of Intent (LOI) yang menjadi awal kolaborasi untuk memperkuat promosi karya dan kapasitas Indonesia di Amerika Serikat.
Kerja sama tersebut tidak berhenti pada agenda pameran. Kolaborasi yang disiapkan mencakup presentasi, forum bisnis, business matching, program arsitektur dan desain, maket, diorama, konten digital, hingga pertukaran pengetahuan.
Bagi Pola Raya, langkah ini juga menjadi bagian dari strategi lebih panjang untuk membangun kehadiran di Amerika Serikat. Perusahaan berencana membuka kantor di New York dan tengah menjajaki kemungkinan akuisisi perusahaan lokal di AS.
Kehadiran tersebut dirancang bukan semata-mata untuk memperluas bisnis Pola Raya. Perusahaan ingin menjadikannya sebagai jembatan bagi talenta dan perusahaan Indonesia untuk bertemu dengan jejaring bisnis internasional.
Konsul Jenderal Republik Indonesia di New York, Winanto Adi, mengatakan Indonesia memiliki banyak talenta dan perusahaan yang sebenarnya mempunyai kemampuan kuat, tetapi membutuhkan ruang untuk diperkenalkan kepada pasar internasional.
“Indonesia memiliki arsitek, perajin, desainer, dan perusahaan dengan kemampuan yang kuat. Yang dibutuhkan adalah ruang agar kemampuan tersebut dapat diperkenalkan dengan baik, dipahami, dan berkembang menjadi hubungan profesional serta bisnis yang nyata,” ujar Winanto.
Dari Munjul hingga Hannover Messe
Langkah Pola Raya menuju pasar Amerika Serikat tidak muncul secara tiba-tiba. Perusahaan tersebut memiliki sejarah panjang yang bermula pada 1982 dari sebuah workshop di Munjul, Jakarta Timur.
Sejak awal, Pola Raya berfokus pada satu persoalan yang kerap menjadi tantangan dalam proyek besar: bagaimana menerjemahkan gagasan kompleks agar mudah dipahami oleh pihak yang harus mengambil keputusan.
Konsep teknis, rencana kawasan, fasilitas industri, hingga proyek strategis kemudian diterjemahkan melalui maket fisik, smart maquette, model interaktif, dan presentasi imersif.
Medium tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai representasi bentuk bangunan. Bagi developer, misalnya, maket dapat membantu calon pembeli, direksi, maupun investor memahami skala dan hubungan antarkawasan.
Sementara untuk sektor industri, energi, pertambangan, dan infrastruktur, model interaktif dapat digunakan untuk menjelaskan jaringan fasilitas, tahapan pembangunan, proses kerja, hingga teknologi yang sulit diterangkan hanya melalui dokumen teknis.
Kemampuan tersebut kemudian mendapat sorotan internasional ketika Pola Raya tampil di Hannover Messe 2023, Jerman.
Saat itu, maket Ibu Kota Nusantara (IKN) karya Pola Raya digunakan Presiden Joko Widodo untuk menjelaskan proyek IKN kepada Kanselir Jerman Olaf Scholz.
Momen tersebut memperlihatkan bahwa sebuah karya yang dibuat di Indonesia dapat menjadi alat komunikasi bagi salah satu proyek pembangunan terbesar Indonesia di hadapan audiens internasional.
Dalam pemberitaan JPNN pada 20 April 2023, Ketua Umum DPP Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional, Kawendra Lukistian, dikutip mengatakan:
“Ini adalah bukti nyata bahwa karya ekonomi kreatif Indonesia bisa bersaing di tingkat global dan menjadi kebanggaan bangsa.”
Bagi Pola Raya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang lebih luas. Persoalannya bukan hanya membuat karya berkualitas, tetapi bagaimana karya tersebut dapat berbicara dalam bahasa yang dipahami oleh pasar internasional.
New York Jadi Pintu Berikutnya
Pengalaman Hannover kemudian menjadi salah satu pijakan untuk membawa strategi tersebut ke level berikutnya melalui kolaborasi dengan KJRI New York.
New York dipilih karena kota tersebut merupakan salah satu pusat ekonomi, arsitektur, properti, desain, investasi, serta industri kreatif dunia. Di kota ini bertemu developer, firma arsitektur, investor, lembaga keuangan, akademisi, perusahaan teknologi, dan pelaku industri kreatif dari berbagai negara.
Program yang disiapkan akan memberikan kesempatan bagi arsitek Indonesia untuk datang langsung ke New York, memamerkan karya, sekaligus mempresentasikan gagasan kepada calon mitra dari Amerika Serikat.
Yang ditawarkan tidak hanya gambar akhir sebuah desain.
Arsitek dapat menjelaskan pendekatan, pengalaman, material, teknologi, budaya, dan pemikiran yang melatarbelakangi sebuah karya. Maket, material, visualisasi, serta pengalaman digital akan digunakan untuk membantu calon mitra memahami proyek secara lebih menyeluruh.
Jalur serupa juga disiapkan bagi perusahaan properti Indonesia. Mereka akan diarahkan untuk bertemu investor, lembaga pembiayaan, family office, serta mitra strategis internasional.
Namun, kolaborasi ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan investasi.
Peluang pendanaan tetap bergantung pada kelayakan proyek, proses due diligence, struktur transaksi, serta keputusan masing-masing investor dan lembaga pembiayaan.
Yang ingin dibangun adalah akses: membuat proyek Indonesia siap masuk dalam percakapan global dan mempertemukannya dengan pihak yang tepat.
Pola Raya Siapkan Kehadiran Permanen
Direktur PT Pola Raya Studio, Mohamad Amin Ahlun Nazar, mengatakan tantangan proyek Indonesia di pasar internasional sering kali bukan terletak pada kualitas gagasannya, melainkan kemampuan menjelaskan gagasan tersebut dalam waktu singkat.
“Proyek yang baik belum tentu langsung dipahami. Dalam pertemuan bisnis internasional, kita mungkin hanya memiliki waktu yang singkat untuk membuat seseorang memahami skala, nilai, dan alasan sebuah proyek layak diperhatikan,” kata Amin.
“Pekerjaan kami adalah membantu proyek itu berbicara dengan jelas sebelum meminta orang lain untuk mempercayainya.”
Karena hubungan bisnis tidak cukup dibangun melalui satu pameran atau satu kunjungan, Pola Raya menyiapkan langkah lanjutan berupa pembukaan kantor di New York.
Perusahaan juga menjajaki akuisisi perusahaan lokal Amerika Serikat. Rencana tersebut akan melalui kajian dan proses uji tuntas tersendiri sebelum keputusan bisnis diambil.
Kehadiran lokal diharapkan membuat hubungan yang terbentuk setelah pameran atau pertemuan bisnis dapat terus ditindaklanjuti.
“LOI ini membuka pintu. Kehadiran Pola Raya di New York nantinya adalah cara kami memastikan pintu tersebut tidak berhenti pada satu acara,” ujar Amin.
“Kami ingin arsitek Indonesia dapat kembali setelah presentasi dan memiliki percakapan lanjutan. Kami ingin perusahaan Indonesia yang bertemu calon mitra memiliki jalur untuk melanjutkan hubungan tersebut. Go global membutuhkan kehadiran, konsistensi, dan kepercayaan.”
Membawa Ekosistem, Bukan Hanya Satu Perusahaan
Arah tersebut juga sejalan dengan posisi Amin sebagai Wakil Ketua Harian DPP Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) periode 2025-2030.
Dengan jejaring tersebut, program diharapkan dapat menjangkau ekosistem yang lebih luas, mulai dari arsitek, perajin, perguruan tinggi, asosiasi profesi, perusahaan properti, badan usaha, tenaga ahli, hingga mitra kreatif Indonesia.
Dorongan agar ekonomi kreatif Indonesia semakin agresif memasuki panggung dunia sebelumnya juga disampaikan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menjelang Arizona IndoFest di Amerika Serikat pada 2025.
“Kini saatnya Indonesia memimpin dengan kekuatan budaya dan kreativitas. Bersama-sama, mari kita jadikan ekonomi kreatif sebagai lokomotif menuju Indonesia maju dan berpengaruh secara global,” kata Dasco dalam keterangan tertulis pada 21 Agustus 2025.
Bagi Pola Raya, gagasan tersebut kini diterjemahkan menjadi strategi konkret: membangun kolaborasi, menciptakan kehadiran lokal, lalu menggunakan jaringan tersebut untuk membuka akses bagi lebih banyak pelaku usaha dan talenta Indonesia.
“Kami berangkat dari workshop di Munjul. Dulu pekerjaan kami adalah membantu orang melihat sebuah bangunan sebelum bangunan itu berdiri,” kata Amin.
“Hari ini tantangannya menjadi lebih besar. Kami ingin membantu dunia melihat kemampuan Indonesia sebelum memutuskan untuk bekerja bersama Indonesia.”
Dari workshop kecil di Munjul hingga Hannover Messe dan kini menuju New York, langkah Pola Raya menunjukkan bahwa ekspansi global tidak hanya dapat diukur dari seberapa jauh sebuah perusahaan membawa namanya.
Ukuran yang lebih besar adalah berapa banyak arsitek, talenta, gagasan, dan proyek Indonesia yang akhirnya ikut mendapatkan akses untuk dikenal, dipahami, dan dipertemukan dengan pasar dunia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar