Sindir Keras Jokowi, Said Didu: Berapa Nyawa yang Jadi Tumbal saat Bapak Berkuasa?
Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) soal pemimpin yang tidak seharusnya menggunakan kekuasaan untuk menjatuhkan orang lain mendapat respons tajam dari mantan Sekretaris BUMN Muhammad Said Didu. Alih-alih menyambut pesan tersebut sebagai nasihat moral, Said Didu justru melontarkan pertanyaan yang mengungkit kembali catatan kekuasaan Jokowi selama menjabat.
Said Didu menyampaikan respons tersebut melalui akun X miliknya. Ia bahkan membuka tanggapannya dengan kalimat bernada sindiran sebelum mempertanyakan berapa banyak orang yang pernah dipenjara dan nyawa yang menurutnya menjadi korban selama Jokowi berkuasa.
"Izinkan #sayaketawa," tulis Said Didu di akun X, dikutip Senin (31/8/2026).
"Berapa orang yg Bapak penjarakan dan berapa nyawa yg jadi tumbal saat Bapak berkuasa?" tambah dia.
Baca Juga: Sindiran Jokowi soal Pemimpin Kasar Mengarah pada Prabowo, Kata Ahmad Khozinudin
Respons tersebut muncul setelah Jokowi menyampaikan pesan mengenai bagaimana seorang pemimpin seharusnya menggunakan kekuasaan. Pesan itu disampaikan saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-8 KH Musyafa Ali di Ponpes Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Jokowi mengingatkan para pemimpin agar tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menekan, menyakiti, ataupun menjatuhkan pihak lain. Menurutnya, jabatan dan kekuasaan pada akhirnya hanya bersifat sementara sehingga harus digunakan secara bijaksana. Jokowi kemudian mengutip filosofi Jawa sebagai pesan kepada para pemimpin.
“Yang pertama lamun siro sekti ojo mateni,” kata Jokowi, dikutip Senin (31/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa ungkapan tersebut mengandung pesan agar seseorang tidak menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk menjatuhkan atau membinasakan orang lain.
“Meskipun kamu sakti jangan suka menjatuhkan atau membunuh,” ujarnya.
Baca Juga: Pakar Sebut Gibran Tak Bisa Dimakzulkan Cuma Gegara Ijazah, 4 Hal Ini Harus Dibuktikan
Jokowi juga mengingatkan bahwa besarnya kekuasaan tidak seharusnya membuat seorang pemimpin bertindak semaunya. Justru, kekuasaan yang besar dinilainya harus diiringi dengan sikap yang semakin bijaksana.
“Enggak boleh mentang-mentang kita punya kekuasaan yang besar kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang. Mboten, itu hal yang tidak baik,” katanya.
Pesan tersebut, kata Jokowi, tidak hanya berlaku bagi pejabat atau pemimpin dengan kekuasaan besar. Ia juga menyinggung pemimpin di tingkat masyarakat agar tidak menggunakan jabatan untuk bersikap semena-mena terhadap warga.
“Termasuk Bapak, Ibu semuanya juga jangan seperti itu. Mentang-mentang jadi lurah kemudian ke rakyatnya bakbuk bakbuk bakbuk,” ucapnya.
Menurut Jokowi, seorang pemimpin harus mampu menjaga perilaku sekaligus tutur kata ketika berhadapan dengan masyarakat. Sikap keras dan ucapan kasar, menurutnya, tidak semestinya menjadi karakter yang ditunjukkan seorang pemimpin kepada rakyat.
“Sering ngendiko banter, sering ngendiko kasar ke rakyat enggak boleh,” tegas Jokowi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: