Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Asap Karhutla Indonesia Sampai Filipina, Menhut Raja Juli Janji Tak Rugikan Negara Tetangga

        Asap Karhutla Indonesia Sampai Filipina, Menhut Raja Juli Janji Tak Rugikan Negara Tetangga Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia, dilaporkan telah menjangkau Manila, Filipina. Kondisi tersebut membuat kualitas udara di sejumlah wilayah ibu kota Filipina berada pada level sangat tidak sehat hingga sangat berbahaya bagi kesehatan.

        Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni merespons kondisi tersebut dengan memastikan pemerintah akan berupaya keras menangani karhutla. Ia menegaskan persoalan asap tidak hanya menyangkut masyarakat Indonesia, tetapi juga warga negara tetangga yang ikut terdampak.

        "Ya kami akan berjuang sekuat tenaga," kata Raja Juli seusai Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

        Raja Juli mengatakan pemerintah memiliki komitmen agar masyarakat Indonesia terbebas dari dampak karhutla. Pada saat yang sama, pemerintah juga berupaya agar asap dari kebakaran hutan dan lahan tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat di negara sekitar.

        "Kita akan berjuang sekuat tenaga ya untuk bagaimana masyarakat Indonesia bisa terbebas dari karhutla dan juga kepada masyarakat tetangga-tetangga kita," kata dia.

        Persoalan tersebut mendapat perhatian karena kabut asap dari Kalimantan disebut telah mencapai kawasan Manila. Dampaknya terlihat dari memburuknya kualitas udara di beberapa wilayah Metro Manila pada Selasa (1/9/2026).

        Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam-Biro Pengelolaan Lingkungan (DENR-EMB) Wilayah Ibu Kota Nasional Filipina mencatat konsentrasi partikulat halus atau PM2,5 yang tinggi di sejumlah lokasi. Kondisi tersebut dikaitkan dengan kabut asap yang kemungkinan berasal dari kebakaran hutan yang sedang berlangsung di Kalimantan, Indonesia.

        Data pemantauan pada Selasa pagi pukul 06.00 waktu setempat menunjukkan Paranaque menjadi wilayah dengan angka Indeks Kualitas Udara (AQI) tertinggi, yakni mencapai 296. Setelah itu, Quezon City mencatat AQI 241, Las Pinas 237, sedangkan Kota Manila berada pada angka 231.

        Angka tersebut masuk dalam kategori kualitas udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Otoritas Filipina menyebut AQI pada kisaran 201-300 dapat membuat dampak polusi dirasakan secara nyata oleh masyarakat sehingga aktivitas di luar ruangan perlu dibatasi.

        Sejumlah wilayah lain di Metro Manila juga tercatat berada pada kategori sangat tidak sehat. Pada kisaran AQI 151-200, kondisi udara tersebut dapat meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi masyarakat yang memiliki gangguan jantung dan paru-paru.

        Baca Juga: Pengamat: Jangan Hanya Menhut, Bos Sawit Harus Diseret

        Kondisi udara tersebut tidak terlepas dari tingginya konsentrasi PM2,5. Partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil itu dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan dan memiliki risiko lebih besar bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap polusi udara.

        Dampak lintas batas tersebut membuat penanganan karhutla di Indonesia tidak hanya menjadi persoalan domestik. Pemerintah juga menghadapi kebutuhan untuk memastikan pengendalian kebakaran dan asap tidak menimbulkan gangguan terhadap masyarakat di kawasan Asia Tenggara.

        Raja Juli sebelumnya juga telah mendapat perhatian dari DPR terkait kebutuhan penanganan karhutla. Kementerian Kehutanan mengusulkan tambahan anggaran sekitar Rp6,2 triliun, antara lain untuk mendukung kebutuhan sewa helikopter dan pesawat water bombing dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan.

        Kondisi asap yang mulai berdampak ke wilayah negara lain, pemerintah dituntut memperkuat pencegahan sekaligus penanganan karhutla. Komitmen Menhut Raja Juli untuk melindungi masyarakat Indonesia dan negara tetangga menjadi bagian dari upaya pemerintah meredam dampak kebakaran hutan dan lahan yang semakin meluas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: