Kredit Foto: Istimewa
Pasar otomotif Indonesia mulai memperlihatkan perubahan arah. Ketika penjualan mobil berbasis mesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE) cenderung tertekan, kendaraan elektrifikasi justru mencatat pertumbuhan signifikan.
Data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 83.758 unit.
Angka tersebut melonjak 88,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada saat yang sama, mobil hybrid juga mencatat pertumbuhan. Distribusinya mencapai 50.138 unit atau naik 42,9 persen secara tahunan.
Bahkan, pertumbuhan paling tinggi secara persentase datang dari segmen plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Penjualannya meningkat dari 2.088 unit pada Januari-Juli tahun lalu menjadi 6.988 unit pada periode yang sama tahun ini, atau tumbuh sekitar 234,7 persen.
Dengan demikian, hampir seluruh kategori kendaraan elektrifikasi menunjukkan pertumbuhan positif.
Kondisi berbeda terjadi pada sejumlah kendaraan konvensional.
Penjualan mobil low cost green car (LCGC), misalnya, turun 16,5 persen menjadi 64.633 unit dari sebelumnya 77.402 unit.
Penurunan tersebut menjadi menarik karena LCGC selama ini merupakan salah satu pilihan utama konsumen yang menginginkan mobil dengan harga relatif terjangkau dan konsumsi bahan bakar efisien.
Elektrifikasi Tumbuh, ICE Menyusut
Perubahan peta pasar semakin terlihat jika melihat perkembangan mobil ICE di luar segmen LCGC dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil ICE di luar LCGC mencapai 869.153 unit pada 2022. Angka tersebut kemudian turun menjadi 729.739 unit pada 2023.
Tren penurunan berlanjut pada 2024 ketika volumenya menjadi 585.729 unit. Pada 2025, penjualan kembali turun menjadi 505.857 unit.
Artinya, dalam periode 2022-2025, volume penjualan mobil ICE tersebut telah merosot sekitar 41,8 persen.
Data tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam struktur permintaan kendaraan di pasar otomotif nasional.
Di satu sisi, kendaraan bermesin konvensional masih mendominasi pasar. Namun, pertumbuhannya tidak lagi sekuat sebelumnya. Di sisi lain, kendaraan elektrifikasi terus memperbesar volumenya.
BEV menjadi salah satu pendorong terbesar perubahan tersebut. Dengan distribusi 83.758 unit sepanjang tujuh bulan pertama 2026, penjualan mobil listrik bahkan sudah melampaui LCGC yang berada di angka 64.633 unit.
Jika digabungkan, penjualan BEV dan hybrid saja sudah mencapai lebih dari 133.000 unit sepanjang Januari-Juli 2026. Angka itu belum memasukkan kendaraan PHEV.
Konsumen Mulai Punya Pilihan Baru
Perubahan ini tidak serta-merta berarti konsumen Indonesia meninggalkan mobil berbahan bakar minyak.
Mobil ICE masih memiliki sejumlah keunggulan, terutama dari sisi harga, ketersediaan infrastruktur pengisian bahan bakar, serta pilihan model yang jauh lebih banyak.
Namun, pertumbuhan kendaraan elektrifikasi menunjukkan konsumen kini memiliki lebih banyak alternatif ketika membeli mobil baru.
Hybrid menawarkan efisiensi bahan bakar tanpa mengharuskan pemilik sepenuhnya bergantung pada fasilitas pengisian daya. Sementara BEV menawarkan biaya operasional yang lebih rendah serta sejumlah keuntungan dari sisi kebijakan.
Mobil listrik juga mendapatkan sejumlah insentif dan kemudahan regulasi yang membuatnya semakin menarik bagi konsumen.
Baca Juga: Usai Motor Listrik, Prabowo Targetkan Produksi Massal Mobil Listrik pada 2028
Baca Juga: Pertamina Resmi Naikkan Harga BBM Mulai 1 September, Pertalite Ikut Terdampak?
Baca Juga: BYD dan Jaecoo Jadi Penguasa Mobil Listrik di Indonesia
Faktor tersebut ikut mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik, terutama ketika pilihan model dan rentang harga semakin beragam.
Sementara itu, teknologi PHEV menawarkan jalan tengah bagi konsumen yang ingin mendapatkan pengalaman berkendara dengan motor listrik tetapi masih memiliki mesin pembakaran internal sebagai sumber tenaga tambahan.
Pertumbuhan ketiga teknologi tersebut menunjukkan bahwa elektrifikasi tidak lagi berada di ceruk pasar yang sangat terbatas.
Bukan Sekadar Pergantian Teknologi
Yang menarik dari perkembangan pasar 2026 bukan hanya besarnya kenaikan penjualan mobil listrik.
Perubahan yang lebih besar terlihat dari munculnya dua tren secara bersamaan: kendaraan elektrifikasi tumbuh, sementara sebagian pasar kendaraan konvensional menyusut.
BEV tumbuh 88,6 persen, hybrid naik 42,9 persen, dan PHEV bahkan melonjak lebih dari dua kali lipat. Sebaliknya, LCGC turun 16,5 persen, sementara penjualan mobil ICE di luar LCGC telah mengalami penyusutan dalam beberapa tahun terakhir.
Meski belum bisa dikatakan seluruh penurunan mobil konvensional berpindah ke kendaraan listrik, data tersebut menjadi sinyal bahwa preferensi pasar mulai berubah.
Konsumen Indonesia kini tidak hanya mempertimbangkan harga beli ketika memilih mobil, tetapi juga mulai memperhitungkan efisiensi energi, biaya operasional, teknologi, hingga insentif yang melekat pada kendaraan elektrifikasi.
Jika tren tersebut berlanjut, persaingan industri otomotif Indonesia dalam beberapa tahun ke depan akan semakin bergeser.
Bukan lagi sekadar soal siapa yang mampu menjual mobil paling banyak, tetapi seberapa cepat kendaraan elektrifikasi dapat mengambil porsi pasar yang selama ini dikuasai mobil bermesin bensin dan diesel.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan