Putin Klaim Rusia Unggul di Perang Ukraina, Sebut Kepemimpinan Kyiv Teroris
Kredit Foto: Reuters/TASS/Sergey Bobylev
Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim posisi pasukannya saat ini lebih unggul dalam perang di Ukraina. Ia juga menyebut kepemimpinan Ukraina sebagai kelompok teroris yang menjadi salah satu alasan Moskwa enggan melakukan negosiasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Putin dalam konferensi pers setelah menghadiri KTT di Kirgistan pada Selasa (1/9/2026), sebagaimana dilaporkan Reuters.
Meski menyatakan enggan bernegosiasi dengan pihak yang disebutnya sebagai teroris, Putin menegaskan bahwa Rusia tetap membuka peluang untuk melakukan pembicaraan guna mengakhiri konflik jika muncul momentum baru.
Dalam kesempatan itu, Putin mengklaim pasukan Rusia telah menguasai wilayah sekitar 270 kilometer persegi di Donetsk, Ukraina timur, sepanjang Agustus.
Ia juga menyebut sejumlah besar tentara Ukraina telah berada dalam kondisi terkepung. Menurut Putin, pasukan Rusia terus bergerak menuju Kota Sloviansk dan Kramatorsk.
Selain operasi di medan perang, Putin mengatakan Rusia tengah mempersiapkan serangan besar terhadap infrastruktur energi Ukraina.
Putin juga merespons peringatan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kepada maskapai penerbangan terkait kemungkinan drone Ukraina mengganggu atau melumpuhkan ruang udara Rusia.
Putin menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk terorisme negara. Ia memperingatkan bahwa Moskwa akan mencari cara untuk memberikan respons jika serangan semacam itu benar-benar terjadi.
Di sisi lain, Putin mengakui serangan Ukraina ke wilayah Rusia telah menimbulkan kerusakan. Ancaman serangan drone, menurutnya, menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi Moskwa.
Kendati demikian, Putin tetap optimistis dengan kondisi militer Rusia saat ini.
Baca Juga: Prabowo ke Rusia, Jadi Tamu Kehormatan Utama Putin di Eastern Economic Forum
"Saya tidak meragukan lagi bahwa musuh akan hancur," kata Putin.
Namun, ia tidak menjelaskan kapan hal tersebut diperkirakan terjadi. Putin juga membantah rumor mengenai kemungkinan Rusia melakukan mobilisasi militer baru. Ia menyebut kabar tersebut sebagai "omong kosong belaka."
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: