Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bertemu Pezeshkian, Putin Pastikan Rusia Tetap Berdiri di Sisi Iran

Bertemu Pezeshkian, Putin Pastikan Rusia Tetap Berdiri di Sisi Iran Kredit Foto: Reuters/Sputnik/Sergey Guneev
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan dukungan Moskow terhadap Iran di tengah konflik yang melibatkan Teheran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan Putin saat bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kyrgyzstan, Selasa (1/9/2026).

Dalam pertemuan itu, Putin menyatakan Rusia berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Iran dalam memperjuangkan kepentingan mereka. Moskow juga memastikan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Teheran akan tetap berjalan meski situasi politik dan militer di kawasan masih diliputi ketegangan.

Pertemuan tersebut menjadi pertemuan pertama Putin dan Pezeshkian sejak perang antara Iran dan AS pecah.

Pezeshkian menyampaikan apresiasi kepada Putin atas sikap Rusia terhadap Iran, baik selama konflik berlangsung maupun ketika Teheran menghadapi tekanan dan sanksi internasional.

Menurut Pezeshkian, sikap Moskow menunjukkan bahwa hubungan Rusia dan Iran bukan sekadar hubungan biasa, melainkan telah berkembang menjadi kemitraan strategis.

Sebelumnya, kepresidenan Iran menyatakan kedua pemimpin akan membahas perkembangan hubungan bilateral serta berbagai cara untuk memperkuat dan memperluas kerja sama di sejumlah bidang.

Putin dan Pezeshkian terakhir kali bertemu dalam pertemuan puncak di Turkmenistan pada Desember 2025.

Hubungan Iran dan AS memburuk setelah perang pecah pada 28 Februari. Serangan AS-Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior militer.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke berbagai wilayah. Konflik yang terus berkembang tersebut meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Setelah hampir tiga bulan ketegangan dan sekitar 40 hari pertempuran antara Iran dan AS, kedua pihak mencapai sebuah memorandum pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar.

Kesepakatan tersebut memberikan kerangka untuk mengakhiri permusuhan dan membuka jalan bagi dimulainya kembali perundingan. Sejumlah ketentuan terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik sensitif dalam konflik, juga tercakup dalam kesepakatan tersebut.

Namun, ketegangan kembali meningkat setelah muncul perselisihan mengenai navigasi di Selat Hormuz.

AS kemudian melancarkan kampanye pengeboman selama dua minggu pada Juli dan kembali menerapkan blokade laut setelah perselisihan dengan Iran semakin dalam.

Washington belakangan juga beralih pada strategi yang disebut sebagai kampanye "sesak napas ekonomi" terhadap Iran dengan meningkatkan tekanan ekonomi kepada Teheran.

Baca Juga: Tak Ingin Perang Selesai, Iran Bakal Paksa AS Tetap Saling Serang

Dukungan Putin terhadap Iran bukan kali pertama disampaikan secara terbuka.

Dalam pertemuan di Saint Petersburg pada akhir April, Putin mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahwa Moskow akan melakukan segala upaya untuk membantu mengamankan perdamaian di Timur Tengah.

Sikap tersebut memperlihatkan eratnya hubungan Rusia dan Iran ketika Teheran menghadapi tekanan militer, ekonomi, dan diplomatik dari AS serta sekutunya.

Bagi Iran, dukungan Moskow menjadi penting di tengah tekanan yang dihadapinya. Sementara bagi Rusia, hubungan dengan Iran menjadi bagian dari kemitraan strategis sekaligus menjaga kerja sama ekonomi dan perdagangan di tengah tekanan geopolitik.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: