Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.763 per Dolar AS Tertekan Kenaikan Inflasi Agustus
Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Mata uang Garuda melemah 19 poin ke level Rp17.763 per dolar AS, dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.744 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah berlangsung di tengah meningkatnya tekanan inflasi domestik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi umum pada Agustus 2026 sebesar 0,21% secara bulanan (month-to-month/MtM), berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli 2026. Secara tahunan (year-on-year/YoY), inflasi mencapai 3,19%, naik dari 2,88% pada bulan sebelumnya.
"BPS mencatat bahwa makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok pengeluaran memberi kontribusi paling tinggi terhadap kenaikan inflasi Agustus 2026," jelas dia kepada wartawan.
Di sisi eksternal, kinerja perdagangan Indonesia masih memberikan sentimen positif. Nilai ekspor pada Juli 2026 mencapai US$26,22 miliar, tumbuh 6,05% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara ekspor nonmigas meningkat 6,84% menjadi US$25,45 miliar, sementara ekspor migas tercatat US$0,79 miliar atau turun 14,58%.
Baca Juga: Proyeksi Gubernur BI Baru di 2027: Ekonomi Tumbuh 6%, Kurs Rupiah Rp17.300
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp17.718 per Dolar AS Pagi Ini
Secara bersamaan Gubernur Bank Indonesia yang baru ditunjuk, Destry Damayanti, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 5,2%-6%. Sementara itu, nilai tukar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.300-Rp17.800 per dolar AS pada 2027.
Destry juga memperkirakan inflasi tetap berada dalam sasaran Bank Indonesia, neraca pembayaran tetap sehat, serta imbal hasil investasi yang menarik sehingga dapat mendukung perkembangan pasar keuangan dan menjaga kecukupan cadangan devisa.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra