Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bantah Klaim Prabowo, Menkes Kabinet Bayangan Ungkap Fakta Medis Sel Otak dan Stunting

        Bantah Klaim Prabowo, Menkes Kabinet Bayangan Ungkap Fakta Medis Sel Otak dan Stunting Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Kesehatan Kabinet Bayangan, Irma Hidayana, kembali melontarkan kritik tajam terhadap narasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

        Kali ini, Irma menyoroti pernyataan Prabowo yang mengklaim bahwa MBG dapat mengatasi masalah sel otak yang tidak berkembang akibat stunting.

        Sebelumnya, beredar video di mana Presiden Prabowo menyebut bahwa satu dari empat anak Indonesia mengalami stunting, yang menyebabkan sel otak dan otot tidak berkembang dengan baik. Prabowo menyiratkan program MBG hadir sebagai solusi masalah tersebut.

        Menanggapi hal itu, Irma secara tegas menyebut pemahaman tersebut keliru secara medis.

        "Pak Prabowo kemarin kan sempat ngomong MBG bisa mengatasi sel otak yang tidak berkembang dengan baik. Ini keliru," tegas Irma dalam keterangannya.

        Irma menjelaskan bahwa perkembangan sel otak anak memiliki masa emas (golden age) yang sangat terbatas, yakni sejak bayi berada dalam kandungan hingga berusia dua tahun. Fase ini kerap disebut sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

        Ia memaparkan pertumbuhan otak anak yang tidak bisa diintervensi saat mereka sudah masuk usia sekolah karena di masa kehamilan otak bayi membentuk 100 miliar sel saraf.

        Rinciannya:

        • Saat Lahir: Berat otak bayi mencapai sekitar 400 gram.
        • Usia 12 Bulan: Berat otak melonjak mencapai 1.000 gram.
        • Usia 2 Tahun: Ukuran otak anak sudah mencapai 80 persen dari ukuran otak orang dewasa.

        "Inilah yang menjadi fondasi kuat untuk menopang kesehatan, tumbuh kembang, termasuk kecerdasan seorang anak sepanjang hidupnya. Jadi jelas, stunting ini hanya bisa dicegah," ungkapnya.

        Lebih lanjut, Irma menjabarkan bahwa langkah pencegahan stunting yang tepat harus menyasar pada hulu permasalahan, bukan di hilir saat anak sudah masuk Sekolah Dasar. Beberapa langkah krusial tersebut meliputi:

        • Pemenuhan gizi perempuan sejak usia remaja, saat hamil, dan masa menyusui.
        • Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sesaat setelah bayi lahir.
        • Pemberian ASI Eksklusif selama enam bulan penuh.
        • Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) bergizi lokal yang dilanjutkan bersama ASI hingga anak berusia dua tahun.

        Menutup penjelasannya, Irma menegaskan bahwa semua pihak tentu mendukung pemenuhan gizi anak Indonesia, namun program MBG dinilai salah sasaran jika ditujukan untuk mengobati stunting.

        "Nggak ada loh yang marah kalau anak Indonesia bergizi dan tumbuh dengan baik, tapi jelas bukan dengan MBG. Udah telat banget, Bro! Sekali lagi, kita wajib fokus ke seribu hari pertama kehidupan seorang anak," pungkas Irma.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: