- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Pemerintah Pilih Tahan Harga Pertamax, Ekonom Sebut Harga Keekonomian Diperkirakan Rp16.800
Kredit Foto: Istimewa
Ekonom hingga pakar energi memperkirakan harga keekonomian Pertamax saat ini berada di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per liter. Namun, harga jual Pertamax di Jakarta masih dipertahankan sebesar Rp15.950 per liter.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, perhitungan harga keekonomian tersebut memperhitungkan sejumlah komponen, mulai dari harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, biaya distribusi dan penyimpanan, margin keuntungan, hingga pajak yang berlaku.
Dengan demikian, terdapat selisih antara harga keekonomian dengan harga jual Pertamax yang diterima masyarakat.
“Artinya, dengan harga Pertamax yang masih Rp15.950 per liter, ada selisih sekitar Rp750-Rp900 per liter yang secara ekonomi belum tecermin dalam harga jual,” kata Yusuf dalam keterangan resmi, Rabu (03/09/2026).
Menurut Yusuf, keputusan pemerintah dan Pertamina mempertahankan harga Pertamax pada awal September dapat dipahami sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan tersebut membuat konsumen belum sepenuhnya menanggung kenaikan biaya keekonomian BBM nonsubsidi tersebut.
“Menurut saya, keputusan pemerintah dan Pertamina menahan harga Pertamax di awal September ini merupakan pilihan yang cukup sadar untuk menjaga daya beli dan kondisi sosial masyarakat,” ujar Yusuf.
Meski Pertamax bukan BBM bersubsidi, Yusuf menjelaskan bahwa selisih antara harga keekonomian dan harga jual tetap harus ditanggung dalam struktur keuangan Pertamina.
Dalam jangka pendek, kondisi tersebut masih dapat dikelola, terutama karena harga sejumlah produk BBM nonsubsidi lainnya sudah mengalami penyesuaian.
Namun, apabila harga Pertamax terus dipertahankan di bawah harga keekonomiannya dalam jangka panjang, tekanan terhadap Pertamina berpotensi meningkat.
Yusuf menyebut kondisi tersebut dapat menekan margin, arus kas, laba, hingga ruang investasi perusahaan, terutama di sektor hulu dan kilang.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Bonar Tua Halomoan Marbun menilai besarnya beban dalam menjaga harga BBM tidak dapat dilepaskan dari kondisi industri minyak nasional.
Produksi minyak domestik saat ini masih jauh di bawah kebutuhan nasional.
“Produksi kita hanya sekitar 580 ribu barel per hari, sedangkan kebutuhan kita dari Sabang sampai Merauke adalah 1,6 juta barel. Jadi bisa dibayangkan defisitnya sekitar 1 juta barel per hari,” kata Bonar dalam keterangan tertulisnya.
Menurut Bonar, kesenjangan antara produksi dan kebutuhan tersebut membuat Indonesia harus memenuhi sebagian besar kebutuhan minyak melalui impor.
Kondisi itu menyebabkan pemerintah dan Pertamina menghadapi tekanan ganda, yakni tingginya biaya pengadaan sekaligus kebutuhan menjaga harga BBM tetap terjangkau bagi masyarakat.
Tekanan tersebut semakin besar ketika harga minyak dunia meningkat dan kondisi geopolitik global mengganggu kepastian pasokan.
Bonar menilai pengadaan minyak tidak hanya bergantung pada kemampuan membeli, tetapi juga pada ketersediaan pasokan, waktu pengiriman, kondisi geopolitik, serta berbagai faktor lainnya.
“Dari sisi kondisi saat ini, secara akademis maupun berdasarkan best practice, kebijakan pemerintah tersebut bisa dipahami. Memang merupakan langkah yang relatif pahit, tetapi bisa diterima sebagai kebijakan untuk mengamankan pasokan yang kebutuhannya semakin besar, sementara harganya tinggi dan kepastian pasokannya semakin rendah,” ujar Bonar.
Baca Juga: Pemerintah Targetkan Lifting Minyak 2027 Naik, Guru Besar ITB Nilai Sumur Rakyat Bisa Dioptimalkan
Bonar menambahkan, mempertahankan harga Pertamax juga dapat membantu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengurangi potensi perpindahan konsumen ke Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi.
Dengan produksi minyak domestik yang masih terbatas, kebijakan menahan harga tersebut menunjukkan pemerintah masih berupaya meredam tekanan harga di tingkat konsumen di tengah tingginya biaya pengadaan energi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: