Profesor BRIN Ingatkan Mimpi Buruk Krakatau 1883, Soroti Erupsi Anak Krakatau
Kredit Foto: Rena Laila Wuri
Profesor riset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menyoroti aktivitas letusan besar di Gunung Anak Krakatau yang terdeteksi oleh Badan Meteorologi Jepang (JMA).
Erma mengingatkan kembali tragedi letusan Krakatau tahun 1883 yang menjadi mimpi buruk dunia. Saat itu, bumi gelap berhari-hari dan negara-negara di belahan utara kehilangan musim dingin.
"Krakatau itu pernah jadi mimpi buruk dunia. Ketika krakatau meletus tahun 1883, hampir seluruh dunia merasakan imbasnya. Dunia gelap selama berhari-hari. Negara-negara di Belahan Bumi Utara kehilangan musim dingin. Itulah mengapa letusan anak krakatau atau krakatoa ini sudah pasti jadi perhatian dunia," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Sabtu (5/9).
Berdasarkan laporan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) letusan Gunung Anak Krakatau memuncak pada Sabtu dini hari, tepatnya pukul 00.01 hingga 04.40 WIB. Fenomena Strombolian terdeteksi jelas, ditandai dengan semburan lava pijar menyerupai air mancur yang memicu aliran lava segar di sekitar tubuh gunung.
Pada fase awal pukul 01.01 WIB, kamera CCTV pemantau visual di lapangan mati total akibat hantaman material vulkanik panas. Hal ini sempat membuat tinggi kolom abu vulkanik tidak dapat teramati secara langsung. Namun, radar satelit internasional mendeteksi sebaran abu mencapai ketinggian hingga 15 kilometer di atmosfer.
Baca Juga: Gempa M5,3 Guncang Jateng–DIY, BMKG Minta Jangan Percaya Isu Liar
Aktivitas kegempaan juga mencatat satu kali gempa letusan dengan amplitudo maksimum 70 mm serta tremor menerus yang berlangsung sangat panjang, mencapai 21.600 detik atau sekitar enam jam. Dentuman keras dari letusan ini terdengar luas dan dirasakan masyarakat di wilayah Banten, Lampung, hingga sebagian Jawa Barat.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). BNPB menegaskan pertumbuhan volume tubuh pasca-2018 masih relatif kecil, sehingga tidak berpotensi memicu keruntuhan bawah laut yang dapat menyebabkan tsunami. Masyarakat pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap tenang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya