Abu Vulkanik Anak Krakatau Mulai Menyelimuti Jakarta, Ini Bahayanya bagi Kesehatan
Kredit Foto: Istimewa
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang telah terdeteksi mencapai wilayah Jakarta.
Abu vulkanik berbeda dari debu biasa. Partikelnya sangat halus dan dapat mengandung silika serta material kaca vulkanik yang bersifat abrasif.
"Jika terhirup atau mengenai tubuh, abu tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit," kata Dinkes DKI Jakarta dalam keterangan resminya, Minggu (6/9/2026).
Paparan abu vulkanik dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, dan sesak napas, serta memperburuk penyakit pernapasan seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Pada mata, abu dapat menyebabkan rasa perih, kemerahan, dan sensasi seperti ada benda asing. Sementara pada kulit, paparan dapat menimbulkan gatal dan iritasi.
Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik Anak Krakatau
Dinkes DKI meminta masyarakat melakukan sejumlah langkah pencegahan, terutama ketika konsentrasi abu vulkanik meningkat di lingkungan sekitar.
Masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan dan menutup rapat pintu serta jendela rumah. Jika harus bepergian, gunakan masker KN95 atau N95 untuk membantu menyaring partikel halus serta kacamata pelindung untuk melindungi mata.
Setelah beraktivitas di luar, masyarakat dianjurkan segera mandi dan keramas, mengganti pakaian, serta mencuci pakaian yang terkena abu secara terpisah. Mata dan hidung juga dapat dibilas menggunakan air bersih jika diperlukan.
Masyarakat yang membersihkan abu vulkanik di rumah, kendaraan, maupun lingkungan sekitar juga perlu menggunakan perlengkapan pelindung, seperti masker, kacamata, sarung tangan, pakaian lengan panjang, dan sepatu tertutup.
Dinkes DKI mengingatkan agar abu tidak langsung disapu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan dan meningkatkan risiko terhirup.
Sebelum membersihkan, abu sebaiknya dipercikkan air secukupnya agar tidak mudah beterbangan. Namun, masyarakat juga diminta tidak menyiram abu secara berlebihan karena abu yang menggumpal dapat menyumbat saluran air dan memicu genangan.
Baca Juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai 50.000 Kaki, Kemenhub: Lima Bandara Ditutup
Baca Juga: Anak Krakatau Erupsi, BMKG: Potensi Tsunami Belum Terdeteksi
Setelah selesai membersihkan lingkungan, masyarakat disarankan melepaskan masker di luar rumah sebelum masuk, kemudian mandi dan keramas serta mengganti seluruh pakaian. Pakaian yang terkena abu sebaiknya dicuci secara terpisah.
Masyarakat juga dianjurkan membilas mata dan hidung dengan air bersih serta mengonsumsi air putih yang cukup.
Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada
Dinkes DKI mengingatkan agar anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan seperti asma dan PPOK lebih berhati-hati terhadap paparan abu vulkanik.
Jika mengalami sesak napas, batuk yang semakin berat, nyeri dada, atau gangguan penglihatan, masyarakat diminta segera mendapatkan pertolongan medis di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Masyarakat diimbau tetap waspada dan mengutamakan kesehatan selama kondisi abu vulkanik masih berlangsung.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: