Kredit Foto: Vico - Biro Pers Sekretariat Presiden
Sebelum dikenal sebagai Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo merupakan mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dikenal cukup pendiam. Namun, menurut teman seangkatannya, Frono Jiwo, karakter Jokowi berubah ketika sudah berkumpul dan berbincang dengan teman-teman dekatnya.
Frono merupakan teman seangkatan Jokowi saat menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan UGM. Keduanya sama-sama masuk kuliah pada 1980 dan menyelesaikan pendidikan pada 1985, sehingga Frono memiliki pengalaman langsung berinteraksi dengan Jokowi sejak masa mahasiswa.
Menurut Frono, Jokowi memang bukan tipe mahasiswa yang banyak bicara ketika berada di lingkungan umum. Ia lebih sering terlihat tenang dan tidak terlalu menonjol dalam pergaulan sehari-hari.
Namun, kesan tersebut berbeda ketika Jokowi berada di tengah teman-teman dekatnya. Frono menyebut Jokowi justru memiliki selera humor yang cukup tinggi dan mampu membuat suasana percakapan menjadi lebih hidup.
“Pak Jokowi orangnya pendiam, tapi kalau ngobrol selalu kocak, apa yang jadi pembicaraan selalu mengundang tawa,” kata Frono, dikutip dari situs resmi UGM, Minggu (6/9/2026).
Cerita tersebut menjadi salah satu kenangan Frono tentang Jokowi ketika keduanya masih menjadi mahasiswa. Bagi Frono, sosok Jokowi yang pendiam di satu sisi ternyata memiliki sisi humoris ketika berbicara dengan orang-orang yang sudah dikenalnya dekat.
Hubungan keduanya juga tidak berhenti setelah mereka menyelesaikan pendidikan di UGM. Frono dan Jokowi kemudian kembali bertemu dalam perjalanan karier ketika keduanya melamar pekerjaan di perusahaan yang sama.
Keduanya masuk bekerja di PT Kertas Kraft Aceh (Persero) bersama Hari Mulyono, yang merupakan adik ipar Jokowi. Frono mengatakan mereka bertiga sempat menjalani pekerjaan bersama di perusahaan tersebut setelah meninggalkan bangku kuliah.
Jokowi kemudian tidak lama bertahan di perusahaan tersebut. Menurut Frono, Jokowi hanya bekerja sekitar dua tahun sebelum akhirnya mengundurkan diri.
Frono menduga keputusan tersebut salah satunya berkaitan dengan kondisi tempat tinggal dan lingkungan kerja di Aceh Tengah setelah Jokowi menikah dengan Iriana. Basecamp tempat mereka bekerja berada di tengah hutan pinus sehingga kondisi tersebut disebut membuat Iriana kurang betah.
“Kami bertiga, Pak Jokowi, saya dan almarhum Hari Mulyono (adik ipar Jokowi) bareng-bareng masuk kerja,” kata Frono.
“Setelah Pak Jokowi menikah, Ibu Iriana kayaknya tidak betah karena basecamp berada di tengah hutan pinus di Aceh Tengah, Pak Jokowi resign dulu, tinggal saya dan almarhum Hari Mulyono yang masih bertahan,” ujarnya.
Baca Juga: Anwar Ibrahim Telepon Jokowi, Sampaikan Solidaritas Malaysia untuk Indonesia
Frono juga mengingat masa kuliah mereka ketika teknologi komputer belum menjadi sesuatu yang umum digunakan mahasiswa. Ia mengatakan mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM pada masa tersebut masih mengandalkan mesin ketik untuk mengerjakan skripsi.
“Pembuatan skripsi semua pakai mesin ketik, walaupun sudah ada komputer tapi jarang sekali yang bisa,” katanya.
Untuk kebutuhan sampul, lembar pengesahan, hingga penjilidan, mahasiswa biasanya menyerahkannya kepada percetakan. Menurut Frono, kondisi tersebut merupakan bagian dari kehidupan akademik mereka ketika menempuh pendidikan di UGM pada awal 1980-an.
Kesaksian Frono memperlihatkan sisi lain Jokowi ketika masih menjadi mahasiswa, jauh sebelum dirinya masuk ke dunia politik nasional. Dari sosok yang terlihat pendiam hingga pribadi yang disebut kocak ketika bersama teman dekat, cerita tersebut menjadi bagian dari kenangan teman seangkatannya terhadap Jokowi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: