Erupsi Anak Krakatau Tak Bisa Diremehkan, Sejarah Kelamnya Pernah Bikin Geger Dunia
Kredit Foto: Istimewa
Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Erupsi diketahui terjadi pada Jumat malam (4/9/2026) dan kembali berlanjut hingga Sabtu dini hari (5/9/2026). Gunung api yang berada di Selat Sunda, tepatnya di antara Pulau Jawa dan Sumatra, itu pun kembali menjadi perhatian.
Aktivitas tersebut bukan sekadar catatan erupsi biasa jika melihat rekam jejak Gunung Anak Krakatau dan kawasan Selat Sunda.
Pasalnya, gunung ini pernah menjadi sumber bencana besar pada 22 Desember 2018 ketika letusannya terbukti memicu tsunami Selat Sunda yang menerjang pesisir Banten dan Lampung. Hanya 24 menit setelah letusan, tsunami dahsyat menghantam tepi selat di dekat Anak Krakatau.
Baca Juga: Anak Krakatau Kembali Bergejolak, Menkes Minta Warga Lakukan Ini
Tragedi tersebut menjadi salah satu pengingat paling kelam mengenai ancaman gunung api di kawasan itu. Ratusan orang tewas karena tidak menyadari bahaya yang datang, sementara kerusakan meluas di wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Namun, erupsi pada awal September 2026 sebenarnya bukan kali pertama Anak Krakatau kembali menunjukkan geliatnya. Gunung tersebut memang telah aktif secara sporadis sejak mulai muncul dari laut pada 1920-an. Bahkan, status aktivitasnya telah berada pada Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026.
Jika ditarik lebih jauh, kisah Anak Krakatau tidak bisa dipisahkan dari salah satu letusan gunung api paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah modern, yakni letusan Gunung Krakatau pada 1883. Kala itu Anak Krakatau bahkan belum terbentuk. Namun, bencana tersebut justru menjadi awal dari proses yang kemudian melahirkan gunung api yang kini berdiri di kawasan Selat Sunda.
Pada Agustus 1883, dunia dibuat gempar oleh letusan Krakatau, gunung berapi yang berada di Selat Sunda dan menghubungkan Laut Jawa dengan Samudra Hindia. Aktivitasnya semakin mengerikan pada 26 Agustus ketika letusan memicu guncangan kuat. Suara dan getarannya membuat warga terjaga pada malam hari hingga ke Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta, bahkan terasa sampai Australia.
Kengerian itu mencapai puncaknya pada 27 Agustus. Suara gemuruh letusan Krakatau terdengar hingga Filipina, Australia, dan Ceylon yang sekarang dikenal sebagai Sri Lanka. Di hari yang sama, letusan tersebut memicu tsunami dahsyat yang menerjang pesisir Pulau Jawa dan Sumatra serta menghancurkan lebih dari 160 pemukiman.
Daya ledaknya pun bukan main-main. Letusan Krakatau pada 1883 diperkirakan memiliki kekuatan setara bom 200 megaton. Bencana tersebut menewaskan lebih dari 36.000 orang dan membuat suhu rata-rata Bumi turun sekitar 0,6°C selama beberapa bulan berikutnya.
Angka korban itu membuat letusan Krakatau 1883 tercatat sebagai salah satu letusan gunung berapi paling mematikan dalam sejarah modern. Peristiwa tersebut hanya kalah dari letusan Tambora pada 1815 yang menewaskan 60.000 orang.
Efek letusan Krakatau bahkan tidak berhenti di sekitar Selat Sunda. Dampaknya dirasakan di berbagai penjuru dunia dan tampaknya mencapai jauh hingga stratosfer. Salah satu fenomena yang kemudian dikaitkan dengan peristiwa tersebut adalah munculnya Bulan yang tampak berwarna biru pada malam hari.
Fenomena tersebut berkaitan dengan material yang dilepaskan ke atmosfer. Letusan Krakatau menghamburkan sulfur dioksida dan berbagai partikel lain, termasuk abu, ke udara. Material itu kemudian menyaring warna-warna sinar matahari yang mencapai permukaan Bumi.
Setiap warna cahaya memiliki panjang gelombang yang berbeda. Merah memiliki panjang gelombang paling panjang, sedangkan ungu merupakan yang paling pendek, sementara warna lainnya berada di antara keduanya sesuai urutan pelangi.
Partikel vulkanik yang terlempar ke atmosfer berukuran kurang dari satu mikron, atau kira-kira seratus kali lebih kecil dibandingkan ketebalan rambut manusia. Meski sangat kecil, partikel tersebut sedikit lebih lebar daripada panjang gelombang cahaya merah. Ketika cahaya tersebar, partikel itu menyerap cahaya merah dan membiarkan warna lain melewatinya.
Proses tersebut kemudian menghasilkan lanskap yang tampak surealis sekaligus memunculkan banyak fenomena Bulan biru.
Hampir setengah abad setelah bencana tersebut, tepatnya pada 1927, gunung api baru mulai muncul dari dasar kaldera bawah laut itu. Gunung tersebut kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau dan mulai mengalami erupsi dari kawasan tersebut.
Aktivitasnya pun tidak selalu kecil. Salah satu periode paling aktif dalam sejarah modern Anak Krakatau dimulai pada November 1992. Sejak November 1992 hingga Juni 2001, Gunung Api Anak Krakatau tercatat meletus hampir setiap hari, bahkan dalam beberapa periode erupsi dapat terjadi setiap 15 menit sekali.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: