Jelang 2029, Jokowi Disebut Mainkan Banyak Skenario: Mana yang Paling Untung Jadi Pilihan
Kredit Foto: Tangkapan Layar YT K-ESDM
Jelang Pemilu 2029, mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut tidak akan bertumpu pada satu jalur politik saja. Kepala Badan Riset PDI Perjuangan (PDIP) Andi Widjajanto menilai Jokowi terbiasa menyiapkan sejumlah skenario sekaligus sebelum menentukan pilihan yang dianggap paling menguntungkan.
Menurut Andi, pola tersebut membuat peta politik menuju 2029 sulit dibaca hanya dari satu kemungkinan. Berbagai kelompok dan kendaraan politik dapat dipersiapkan secara bersamaan untuk menghadapi perubahan situasi yang masih mungkin terjadi dalam beberapa tahun ke depan.
"Pak Jokowi yang saya pahami selalu tidak pernah punya skenario tunggal. Tidak hanya skenario A. Dia akan punya skenario bahkan lawannya A, atau skenario alternatif dari A," kata Andi dalam tayangan YouTube Hendri Satrio Official.
Dengan pola seperti itu, setiap jalur politik bisa bergerak dengan strategi dan target masing-masing. Hasil pergerakan dari setiap jalur kemudian dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan opsi yang paling sesuai dengan kepentingan politik Jokowi.
Andi menggambarkan tim-tim tersebut dapat berjalan secara bersamaan dengan tugas yang kurang lebih sama. Perbedaannya terletak pada kecepatan bergerak, kesiapan, peluang menang, serta risiko politik yang mungkin muncul.
"Tim yang dinilai paling siap, paling cepat bergerak, serta memiliki peluang terbesar pada akhirnya bisa menjadi pilihan," ujar Andi dalam penjelasannya.
Karena itu, menurut Andi, menuju Pemilu 2029 bukan tidak mungkin Jokowi menyiapkan beberapa kendaraan politik sekaligus. Opsi tersebut dapat mencakup Partai Solidaritas Indonesia (PSI), kelompok mantan relawan, hingga jaringan yang berasal dari mantan menteri.
Nama Presiden Prabowo Subianto juga masuk dalam kalkulasi kemungkinan tersebut. Andi menyebut kerja sama dengan Prabowo tetap menjadi salah satu jalur yang mungkin dipertimbangkan apabila konfigurasi politik ke depan membuat pilihan tersebut memiliki peluang lebih besar.
Pertimbangan akhirnya, kata Andi, bukan sekadar siapa yang paling dekat dengan Jokowi. Faktor peluang kemenangan dan risiko politik juga menjadi bagian penting dalam menentukan jalur yang akan dipilih.
"Nanti dilihat saja, mana yang peluangnya paling bagus, paling besar, dan risiko politiknya ke Pak Jokowi paling kecil," imbuhnya.
Baca Juga: Jokowi Senang Masih Dihubungi PM Malaysia, dapat Ungkapan Belasungkawa Soal Bencana di Indonesia
Gambaran tersebut sekaligus menjelaskan mengapa Andi menilai berbagai konfigurasi menuju 2029 masih terbuka. Bahkan, ia menyebut kemungkinan yang saat ini terlihat tidak lazim dapat berubah ketika kepentingan politik dan keseimbangan kekuatan antarkelompok ikut bergeser.
Salah satu contoh yang disebut Andi adalah kemungkinan Gibran Rakabuming Raka berpasangan atau berada dalam satu konfigurasi politik dengan Anies Baswedan. Dua nama tersebut selama ini berada dalam spektrum politik yang berbeda dan pernah berseberangan dalam sejumlah momentum politik.
"Ini mungkin kondisi yang bisa tiba-tiba ya, Gibran-Anies. Dan bisa saja Aniesnya mau, namanya politik," ujar Andi.
Bagi Andi, kemungkinan tersebut menjadi contoh bahwa politik menjelang 2029 tidak bisa dipetakan hanya berdasarkan hubungan dan posisi politik saat ini. Konfigurasi yang terbentuk nanti sangat bergantung pada siapa yang memiliki peluang paling besar, jalur politik mana yang paling siap, serta seberapa besar risiko yang harus ditanggung masing-masing tokoh.
Waktu menuju Pemilu 2029 yang masih panjang, berbagai skenario tersebut masih berada pada tahap kemungkinan. Namun, jika analisis Andi mengenai pola politik Jokowi benar, pertarungan menuju 2029 bisa saja tidak hanya ditentukan oleh satu kendaraan politik, melainkan oleh sejumlah jalur yang bergerak bersamaan sebelum akhirnya dipilih opsi yang dianggap paling menguntungkan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama