- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Kebutuhan CPO Tembus 104 Juta Ton pada 2045, Agrinas Palma Ungkap Tantangan Sawit Indonesia
Kredit Foto: Agrinas Palma
PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) memproyeksikan kebutuhan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia mencapai sekitar 104 juta ton pada 2045 untuk memenuhi kebutuhan biodiesel, pangan, ekspor, produk turunan, dan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Direktur Utama Agrinas Palma Mohammad Abdul Ghani mengatakan pemenuhan kebutuhan tersebut membutuhkan peningkatan produktivitas perkebunan sekaligus penambahan areal perkebunan. Produktivitas perlu ditingkatkan dari sekitar 3 ton menjadi 4,4 ton CPO per hektare, sedangkan areal perlu bertambah sekitar 7,4 juta hektare.
“Indonesia memiliki potensi bioenergi yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas, menjaga keberlanjutan, serta memastikan hasil dari sektor hulu dapat terhubung dengan kebutuhan industri bioenergi nasional,” ujar Ghani dalam Panel Diskusi 3 The 12th Indonesia EBTKE Conference and Exhibition (IndoEBTKE ConEx) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Menurut Agrinas Palma, penguatan sektor hulu menjadi penting karena pengembangan bioenergi nasional tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan mandatori di sektor hilir. Ketersediaan bahan baku secara konsisten membutuhkan agroindustri yang produktif dan berkelanjutan.
Kelapa sawit dinilai memiliki posisi strategis sebagai penggerak utama bioenergi nasional karena produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Dengan sekitar 8% lahan pertanian dunia, sawit menghasilkan sekitar 34% produksi minyak nabati pangan dunia.
Komoditas tersebut juga dapat diolah menjadi berbagai produk energi dan industri, mulai dari biodiesel, SAF, oleokimia, bio-CNG hingga biogas.
Sawit Rakyat Jadi Titik Krusial
Agrinas Palma mencatat perkebunan sawit rakyat mencakup sekitar 42% atau 6,94 juta hektare dari total luas perkebunan sawit Indonesia. Sekitar 2,8 juta hektare di antaranya didominasi tanaman berusia lebih dari 25 tahun dan melibatkan sekitar 1,4 juta kepala keluarga.
Kondisi tanaman tua dan rendahnya realisasi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) membuat produktivitas sawit rakyat masih berada di kisaran 2,6 ton CPO per hektare. Padahal, melalui penerapan best practices, produktivitasnya dinilai dapat mencapai sekitar 5 ton CPO per hektare.
Realisasi PSR saat ini baru sekitar 20.000 hektare per tahun, sementara alokasi dana untuk program tersebut tercatat kurang dari 5% selama periode 2021–2023.
Agrinas Palma menilai intensifikasi perlu dilakukan melalui percepatan PSR, penerapan pola tumpang sari tanaman pangan, Good Agricultural Practices (GAP), digitalisasi, mekanisasi, serta penguatan riset dan inovasi.
Sementara itu, ekstensifikasi dapat dilakukan melalui verifikasi kawasan Hutan Produksi yang dapat Dikonversi, dengan tetap disertai reforestasi terhadap sisa kawasan dan area marginal.
Peningkatan produksi tersebut, lanjut Agrinas Palma, perlu berjalan bersama tata kelola berkelanjutan. Langkahnya mencakup perlindungan kawasan High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS), pelestarian keanekaragaman hayati, larangan penggunaan api dalam pembukaan lahan, serta penerapan sistem ketertelusuran berbasis teknologi informasi.
Agrinas-Pertamina Siapkan Hilirisasi Biofuel
Pengembangan bahan baku tersebut juga diarahkan untuk mendukung hilirisasi bioenergi. CPO dapat diolah menjadi biodiesel untuk mendukung program B50 dan minyak pangan. Sementara tandan kosong serta Palm Oil Mill Effluentdapat dimanfaatkan untuk menghasilkan green diesel, SAF, biogas, dan bahan bakar co-firing.
Selain sawit, Agrinas Palma menyiapkan pengembangan bioetanol terintegrasi berbasis singkong. Skema tersebut menghubungkan perkebunan seluas 4.000–6.000 hektare dengan pabrik berkapasitas 100 kiloliter per hari.
Pasokan sekitar 200.000 ton singkong per tahun diproyeksikan menghasilkan 30.000 kiloliter bioetanol per tahun. Produk samping berupa DDGS dan vinasse dapat dimanfaatkan untuk mendukung peternakan sapi terintegrasi.
Baca Juga: Agrinas Palma Ungkap Kebutuhan CPO RI Bisa Tembus 104 Juta Ton pada 2045
Baca Juga: Agrinas dan Kementerian Koperasi Gebrak Hilirisasi Sawit Berbasis Koperasi
Baca Juga: Agrinas Palma Perkuat Kemitraan Koperasi untuk Hilirisasi Sawit dan Pengembangan Plasma Petani
Rencana pengembangan biodiesel dan bioetanol tersebut akan dilakukan melalui kerja sama strategis Agrinas Palma dan PT Pertamina (Persero), dengan dukungan Danantara. Agrinas Palma akan berperan menyediakan lahan dan mengelola rantai pasok bahan baku, sedangkan Pertamina menangani pembangunan dan pengoperasian pabrik biofuel serta menjadi offtaker produk.
“Kami ingin menghasilkan biodiesel dan bioetanol dengan dukungan pasokan bahan baku dari sektor agroindustri nasional. Untuk mewujudkannya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, BUMN, pelaku industri, lembaga pembiayaan, serta pemilik teknologi,” kata Ghani.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: