Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Dedi Mulyadi Wanti-Wanti Penebangan Masif dan Krisis Ekologi di Garut Selatan

        Dedi Mulyadi Wanti-Wanti Penebangan Masif dan Krisis Ekologi di Garut Selatan Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memperingatkan potensi bencana akibat masifnya penebangan kayu di kawasan Garut Selatan. Kondisi lahan yang semakin terbuka dan kering dinilai meningkatkan risiko longsor ketika musim hujan tiba.

        Selain kerusakan lingkungan, aktivitas pengangkutan kayu menggunakan kendaraan bertonase besar juga berpotensi mempercepat kerusakan jalan dan jembatan yang digunakan masyarakat.

        "Sepanjang jalan saya melihat penebangan kayu sangat masif di wilayah Garut Selatan. Beberapa daerah itu sudah sangat terbuka tanahnya dan kering," ungkap Dedi Mulyadi, Rabu (9/9/2026).

        Dedi turut menyoroti kendaraan berat yang mengangkut hasil penebangan kayu dari kawasan tersebut. Ia menyebut menemukan truk dengan muatan mencapai 20 hingga 30 ton.

        Menurut dia, beban kendaraan sebesar itu berisiko mempercepat kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan di Garut Selatan.

        "Tonase mobil pengangkut kayunya sangat luar biasa. Bebannya sampai saya lihat ada yang 20 ton, ada yang 30 ton. Tentunya ini akan menjadi cepat rusaknya jalan dan jembatan," kata Dedi.

        Untuk mengantisipasi dampak kerusakan lingkungan yang semakin luas, Dedi mendorong pemerintah daerah dan masyarakat mempercepat upaya reboisasi. Pemulihan tutupan lahan dinilai penting untuk mengurangi risiko bencana, terutama saat curah hujan meningkat.

        Pangalengan Juga Diwaspadai

        Dedi mengatakan persoalan serupa juga perlu diwaspadai di kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Ia menyoroti pembukaan lahan yang membuat sejumlah kawasan pegunungan semakin terbuka.

        Kondisi tersebut dikhawatirkan meningkatkan limpasan air saat hujan deras. Air yang mengalir dari kawasan dataran tinggi berpotensi membawa material tanah menuju sungai-sungai di wilayah Bandung Selatan.

        Dedi mengingatkan dampaknya dapat meluas hingga Sungai Citarum karena tingginya sedimentasi yang terbawa aliran air.

        "Ini juga akan menjadi potensi bencana di saat musim hujan nanti di wilayah Bandung Selatan, termasuk banjir karena nanti gerusan air dari Pangalengan bisa mengalir ke sungai-sungai dan kemudian terjadi sedimentasi yang sangat tinggi di Citarum," tandasnya.

        Ancaman Banjir dan Longsor

        Dedi menilai kerusakan tutupan lahan di kawasan pegunungan perlu segera ditangani sebelum memasuki periode hujan. Jika tidak, limpasan air dan material tanah dapat meningkatkan risiko bencana di wilayah hilir.

        Selain ancaman longsor di kawasan yang lahannya terbuka, sedimentasi sungai juga berpotensi memperbesar risiko banjir di wilayah Bandung Selatan.

        Karena itu, penanganan kerusakan lingkungan tidak cukup hanya dengan menghentikan pembukaan lahan. Reboisasi dan pemulihan kawasan hulu juga diperlukan untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: