Kredit Foto: Antara/Rahmad
Kajian Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) menyimpulkan bahwa banjir bandang di Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, dipicu oleh fenomena cuaca ekstrem akibat Siklon Senyar. Penelitian tersebut juga menyebut alih fungsi lahan maupun aktivitas pertambangan tidak menjadi penyebab utama bencana tersebut.
Peneliti I-SER UI, Dr. Eko Kusratmoko, mengatakan hasil pemodelan hidrologi dan hidrodinamik terhadap banjir bandang yang terjadi pada 25 November 2025 menunjukkan curah hujan ekstrem menjadi faktor dominan penyebab bencana.
"Hasil temuan karena Siklon Senyar mengakibatkan banjir bandang," ujar Eko dikutip Rabu (19/8/2026).
Berdasarkan hasil kajian, curah hujan harian saat kejadian mencapai 229,7 milimeter, sedangkan akumulasi curah hujan selama sepekan melampaui 600 milimeter. Intensitas hujan tersebut dikategorikan sebagai kejadian dengan periode ulang sekitar 300 tahun, yang menunjukkan tingkat ekstremitas sangat tinggi.
Kajian tersebut menepis anggapan bahwa perubahan tutupan lahan menjadi penyebab utama banjir bandang. Berdasarkan analisis perubahan penggunaan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga selama periode 1990-2026, memang terdapat alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Namun, luasannya hanya sekitar 10% dari total DAS Garoga yang mencapai 445 kilometer persegi dan sebagian besar berada di wilayah hilir.
"Sebagian besar perubahan lahan sawit memang sebagian besar di bagian bawah, jadi sebenarnya tidak ada efeknya dengan banjir," kata Eko.
Menurutnya, faktor yang memperparah banjir justru berasal dari longsoran besar di kawasan hulu. Berdasarkan pemetaan citra satelit, tim peneliti menemukan sedikitnya 1.572 titik longsor yang menghasilkan material berupa tanah, batu, dan lumpur yang terbawa aliran sungai hingga menyumbat saluran air.
"Dari 1.572 titik, 81 persen ada di wilayah lahan hutan dengan lereng curam sampai sangat curam. Hujan yang ekstrem ini menimbulkan longsoran hebat di hulu dan kemudian aliran debris lumpur akan menutup di saluran, jebol dan terjadilah banjir bandang," paparnya.
Penelitian tersebut juga mengklarifikasi isu yang berkembang mengenai dugaan keterkaitan aktivitas pertambangan di kawasan Aek Pahu dengan banjir Garoga. Berdasarkan analisis hidrologi, wilayah pertambangan berada pada sistem aliran sungai yang berbeda sehingga tidak berkontribusi terhadap banjir bandang yang terjadi di Garoga.
"Aek Pahu posisinya di sebelah selatan. Aliran air dari Aek Pahu itu dari wilayah pertambangan mengalir juga ke bagian hilir Sungai Garoga, sudah mendekati laut titiknya. Jadi tidak mengalir di tengah yang banjir ini, di luar sistem," jelas Eko.
Baca Juga: Profesor Ahli Cuaca BRIN Sebut Super El Nino Berlangsung hingga Februari 2027
Baca Juga: Bali Hujan dan Banten Angin Kencang, Ini Prakiraan Cuaca Selasa 28 Juli 2026
Hasil kajian tersebut telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan sebagai bahan penyusunan langkah mitigasi bencana. Tim peneliti merekomendasikan pembenahan tata ruang untuk menetapkan zona aman permukiman, kawasan rawan bencana, serta titik evakuasi guna mengurangi risiko apabila kejadian serupa kembali terjadi.
"Kami beri batas aman mana yang boleh ditinggali, mana yang bisa jadi tempat evakuasi. Tata ruang perlu kesepakatan Pemda dengan masyarakat," ujar Eko.
Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan mitigasi bencana berbasis kajian ilmiah, terutama di wilayah yang rentan terhadap cuaca ekstrem. Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian tersebut dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan tata ruang, pengelolaan kawasan hulu, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana hidrometeorologi yang diperkirakan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: