Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Melemah ke Rp17.547 per Dolar AS, Harga Minyak Jadi Sorotan

        Rupiah Melemah ke Rp17.547 per Dolar AS, Harga Minyak Jadi Sorotan Kredit Foto: Antara/Reno Esnir
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.547 per dolar AS, atau melemah 36 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.511.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan meskipun pemerintah mengisyaratkan anggaran negara berada dalam posisi aman, risiko fiskal akibat tingginya harga minyak dunia tetap membayangi stabilitas perekonomian. 

        "Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor diantaranya, kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG)," jelas kepada wartawan.

        Ibrahim mengatakan, jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target meningkat. Dan apabila impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar AS, yang dapat memperlemah nilai tukar mata uang domestik. 

        "Jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM domestik untuk mengurangi beban APBN, hal ini akan memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat," jelas dia.

        Pemerintah, lanjut Ibrahim, umumnya mengandalkan bantal fiskal (fiscal buffer) seperti kenaikan pendapatan dari ekspor komoditas lain (rejeki nomplok/windfall) untuk menjaga agar anggaran tetap aman. Namun, ketidakpastian pasar global membuat kewaspadaan terhadap kesinambungan fiskal tetap menjadi prioritas.

        Baca Juga: Rupiah Melanjutkan Penguatan Pagi Ini ke Level Rp17.495 per USD

        Baca Juga: Rupiah Ditutup Perkasa ke Rp17.507 per USD, Data Konsumsi Domestik Jadi Senjata

        Kendati demikian, tekanan penurunan tertahan oleh sentimen konsumen bulan Agustus yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan, didorong oleh kondisi keuangan rumah tangga yang lebih kuat dan prospek ekonomi yang lebih cerah.

        "Walaupun peningkatan konsumsi belum dibarengi dengan adanya kenaikan pendapatan Masyarakat sehingga demi menopang belanja, masyarakat masih terjerat penomena makan tabungan," ungkapnya. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: